Abstract:
Latar Belakang: Stres akademik merupakan tekanan psikologis yang umum
dialami mahasiswi akibat tuntutan perkuliahan yang tinggi, seperti beban tugas,
evaluasi akademik, serta tekanan untuk meraih prestasi. Aktivasi hormon stres,
khususnya kortisol, dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi sehingga
memengaruhi keteraturan siklus menstruasi. Kondisi ini sering terjadi pada
mahasiswi fakultas kedokteran yang memiliki beban akademik lebih
berat. Tujuan: Mengetahui hubungan tingkat stres akademik dengan gangguan
siklus menstruasi pada mahasiswi angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Sumatera Utara. Metode: Penelitian ini bersifat analitik
observasional dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan 128 mahasiswi.
Data dikumpulkan melalui kuesioner Holmes and Rahe Stress Scale, Perception of
Academic Stress Scale (PASS), dan kuesioner siklus menstruasi, kemudian
dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p <
0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan
antara tingkat stres akademik dengan gangguan siklus menstruasi (p = 0,001).
Mahasiswi dengan tingkat stres tinggi lebih banyak mengalami siklus menstruasi
tidak normal (72,6%) dibandingkan mahasiswi dengan tingkat stres sedang
(43,9%). Kesimpulan: Mayoritas mahasiswi yang memiliki tingkat stres akademik
tinggi menunjukkan kecenderungan lebih besar mengalami gangguan siklus
menstruasi. Oleh karena itu, pengelolaan stres dan perhatian terhadap kesehatan
reproduksi mahasiswi perlu ditingkatkan untuk meminimalkan dampak akademik
dan fisiologis.