| dc.description.abstract |
Pendahuluan: Stres merupakan salah satu persoalan signifikan pada mahasiswa,
terutama pada mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rendah. IPK
rendah dapat menjadi faktor pemicu stres, sekaligus menjadi akibat dari stres yang
tidak terkelola, sehingga menciptakan siklus yang saling memperburuk. Berbagai
stresor seperti akademik, hubungan sosial, tuntutan keluarga, serta kondisi
lingkungan perkuliahan dapat memengaruhi kondisi psikologis mahasiswa dan
berdampak pada fungsi akademik, perilaku, serta kesehatan fisik. Oleh karena itu,
pemahaman mengenai jenis stresor, tingkat stres, serta dampak dan strategi yang
digunakan mahasiswa menjadi penting untuk mengembangkan intervensi yang
tepat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode mixed methods. Pendekatan
kuantitatif menggunakan purposive sampling sebanyak 38 responden, sedangkan
pendekatan kualitatif melibatkan 9 partisipan melalui wawancara mendalam.
Hasil: Mayoritas mahasiswa mengalami stres cukup berat (60,5%), stres berat
(26,3%), stres sedang (10,5%), dan stres ringan (2,6%). Stresor paling dominan
adalah academic related stressor (ARS). Hasil uji Spearman menunjukkan seluruh
variabel stresor memiliki nilai signifikansi (p) > 0,05, sehingga tidak terdapat
hubungan signifikan antara jenis stresor dengan tingkat stres, meskipun seluruh
koefisien korelasi menunjukkan arah positif dengan kekuatan lemah. Hasil
wawancara menunjukkan dampak stres pada tidur, makan, emosi, konsentrasi, dan
interaksi sosial, serta strategi coping seperti makan makanan favorit, berkumpul
dengan orang terdekat, meningkatkan motivasi belajar, dan memperbaiki
manajemen waktu. Kesimpulan: Mahasiswa dengan IPK rendah memiliki tingkat
stres tinggi yang didominasi stresor akademik. Meskipun tidak terdapat hubungan
signifikan secara statistik, arah korelasi positif menunjukkan bahwa peningkatan
stresor tetap berpotensi meningkatkan tingkat stres. |
en_US |