Abstract:
Pendahuluan: Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan
kronik pada sistem gastrointestinal yang ditandai oleh refluks isi lambung ke
esofagus dan menimbulkan gejala yang mengganggu kualitas hidup. Intermittent
Fasting (IF) menjadi pola makan yang semakin banyak diterapkan pada populasi
usia produktif, termasuk civitas akademik fakultas kedokteran, namun perubahan
pola makan dan jadwal puasa–makan dapat memengaruhi dinamika sekresi asam
lambung dan motilitas gastrointestinal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
hubungan antara kebiasaan IF dengan kejadian gejala GERD pada civitas akademik
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera
Utara. Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan
pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel sebanyak 64 responden. Teknik
pengambilan sampel adalah purposive sampling. Pengolahan data menggunakan
aplikasi statistik SPSS dengan menggunakan uji Chi-Square (p<0,05). Hasil : Hasil
analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan nilai p = 0,633 (p >
0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel yang
diteliti. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara kebiasaan Intermittent
Fasting dengan kejadian gejala GERD pada civitas akademik Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara