Abstract:
Pendahuluan: Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin banyak
digunakan dalam pendidikan kedokteran untuk mendukung pencarian informasi,
memperkaya materi ajar, mempermudah pemahaman konsep yang kompleks, serta
meningkatkan efektivitas pembelajaran. Pemanfaatan AI tidak hanya bergantung
pada teknologi, tetapi juga memerlukan pemahaman dan persepsi yang baik dari
dosen maupun mahasiswa agar penggunaannya tepat dan optimal. Oleh karena itu,
penting untuk mengetahui persepsi dosen dan mahasiswa terhadap penggunaan AI
dalam proses pembelajaran. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan
kuantitatif cross-sectional. Sampel terdiri dari 72 dosen dan 72 mahasiswa Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara yang
dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling. Data dikumpulkan melalui
kuesioner yang mengukur persepsi, jenis AI yang digunakan, frekuensi, tujuan, dan
pemanfaatannya. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney untuk
mengetahui perbedaan persepsi antara dosen dan mahasiswa. Hasil: Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT merupakan aplikasi AI yang paling
banyak digunakan, dengan mahasiswa menggunakan AI lebih intens dibanding
dosen. Persepsi dosen dan mahasiswa membentuk sikap yang cenderung moderat
pada kedua kelompok. Analisis statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan
signifikan antara persepsi dosen dan mahasiswa (Asymp. Sig. 0,107 > 0,05), yang
menunjukkan pandangan keduanya relatif sejalan meskipun frekuensi penggunaan
berbeda. Kesimpulan: Meskipun intensitas penggunaan AI berbeda, persepsi
dosen dan mahasiswa terhadap peran AI dalam pembelajaran kedokteran relatif
sejalan. AI dianggap sebagai teknologi pendukung yang efektif, membantu proses
pembelajaran menjadi lebih mudah, cepat, dan berkualitas. Temuan ini menegaskan
pentingnya integrasi AI dalam pendidikan kedokteran, namun tetap memerlukan
pembekalan dan pemahaman agar penggunaannya optimal.