Abstract:
Latar Belakang: Acne vulgaris merupakan peradangan kronis pada unit
pilosebasea dan sering terjadi pada remaja dan dewasa muda, yang mana bakteri
Cutibacterium acnes berperan dalam proses terjadinya acne vulgaris. Penggunaan
antibiotik terutama klindamisin masih menjadi terapi utama, namun menimbulkan
resiko resistensi, sehingga dibutuhkan alternatif antibakteri dari bahan alami.
Daun ciplukan (Physalis angulata L.) mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan
alkaloid yang berpotensi dapat menghambat pertumbuhan Cutibacterium acnes.
Metodologi: Penelitian ini merupakan true experimental design yang
menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak daun ciplukan diperoleh melalui
maserasi etanol 96%, kemudian diuji pada konsentrasi 25%, 75%, dan 90%, serta
dibandingkan dengan klindamisin sebagai kontrol positif dan aquadest sebagai
kontrol negatif. Pengukuran zona hambat dilakukan menggunakan jangka sorong
setelah inkubasi 24 jam. Hasil Penelitian: Ekstrak daun ciplukan terbukti
menghambat pertumbuhan Cutibacterium acnes pada semua konsentrasi, dengan
peningkatan zona hambat seiring peningkatan konsentrasi. Rata-rata zona hambat
yaitu 12,92 mm pada 25%, 14,56 mm pada 75%, dan 15,85 mm pada 90%.
Konsentrasi 75% merupakan yang paling optimal secara statistik dari ekstrak daun
ciplukan dibanding konsentrasi 25% dan 90%. Kesimpulan: Ekstrak daun
ciplukan konsentrasi 75% efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Cutibacterium acnes secara in vitro.