Abstract:
Pendahuluan : Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan penyakit
paru progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara dan gejala utama
berupa sesak napas. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik, tetapi
juga memengaruhi kondisi psikologis, terutama munculnya kecemasan pada
penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat
sesak napas dengan simptom ansietas pada pasien PPOK. Metode: Penelitian ini
menggunakan desain analitik dengan pendekatan potong lintang (cross sectional).
Subjek penelitian adalah 54 pasien PPOK yang dipilih menggunakan teknik total
sampling. Derajat sesak napas diukur menggunakan kuesioner MMRC (Modified
Medical Research Council), sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan
kuesioner HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Analisis data dilakukan secara
univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase, serta analisis bivariat
menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (85,2%) dan berusia ≥60
tahun (70,4%). Derajat sesak napas terbanyak berada pada tingkat 3 (44,4%),
sedangkan tingkat kecemasan terbanyak adalah kecemasan sedang (46,3%). Hasil
uji Spearman menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara derajat
sesak napas dengan simptom ansietas (r = 0,426; p = 0,001), dengan arah korelasi
positif dan kekuatan hubungan sedang. (33,3%). Kesimpulan: Kesimpulan
penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara derajat sesak napas
dengan tingkat kecemasan pada pasien PPOK. Oleh karena itu, diperlukan
perhatian terhadap aspek psikologis dalam penatalaksanaan pasien PPOK untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.