| dc.description.abstract |
Pendahuluan: Penyakit Alzheimer adalah penyebab utama demensia
dengan patologi utama akumulasi beta-amiloid dan tau hiperfosforilasi yang
mengganggu neuroplastisitas (kemampuan adaptasi otak). Upaya terapi
farmakologis dan non-farmakologis berpotensi memodulasi neuroplastisitas untuk
memperlambat progresi penyakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis faktor-faktor farmakologis dan non-farmakologis yang dapat
meningkatkan neuroplastisitas pada pasien Alzheimer. Metode: Dilakukan
systematic review dengan pencarian literatur di database PubMed, Scopus, dan
Google Scholar hingga Desember 2025. Menggunakan strategi PICO dengan kata
kunci terkait terapi Alzheimer dan neuroplastisitas. Seleksi artikel dilakukan
berdasarkan kriteria inklusi (studi 2020-2025, full-text, bahasa Inggris) dan
eksklusi, dengan alur PRISMA. Hasil: Dari 13.661 artikel teridentifikasi, 14
artikel (7 farmakologis, 7 non-farmakologis) memenuhi kriteria. Terapi
farmakologis (donepezil dan memantine) menunjukkan peningkatan indikator
neuroplastisitas struktural-fungsional (seperti kadar BDNF, ekspresi protein
sinaptik, LTP) dan fungsi kognitif. Terapi non-farmakologis (latihan aerobik,
terapi musik, cognitive stimulation therapy) secara konsisten menunjukkan
perbaikan fungsi kognitif, konektivitas otak, serta mekanisme neuroplastisitas.
Kesimpulan: Baik terapi farmakologis maupun non-farmakologis berperan dalam
meningkatkan neuroplastisitas pasien Alzheimer. Terapi non-farmakologis
menunjukkan hasil yang lebih konsisten, sementara pendekatan kombinasi
berpotensi memberikan manfaat optimal. Diperlukan penelitian lanjutan dengan
desain lebih seragam untuk memperkuat bukti. |
en_US |