Abstract:
Latar Belakang: Gangguan makan merupakan terjadinya pola makan yang tidak
normal yang biasanya dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikologis.
Gangguan makan memiliki sub tipe yaitu anorexia nervosa , bulimia nervosa ,
binge eating disorder , avoidant restricted food intake disorder, pica, dan
rumination disorder. Amenore sekunder merupakan gangguan siklus menstruasi
yang ditandai dengan tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan berturut turut.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat
hubungan antara risiko tinggi gangguan makan dengan kejadian amenore
sekunder.Metode penelitian: Metode penelitian ini menggunakan kuesioner
berbasis EAT-26 untuk gangguan makan dan wawancara terstruktur untuk
mengetahui riwayat menstruasi.Penelitian ini dilakukan di 2 Rumah Sakit dengan
2 Poli yaitu RS Bhayangkara TK II Medan poli obgyn serta poli penyakit dalam
dan RS Umum Haji Medan poli obgyn dan poli penyakit dalam. Sampel yang
diperlukan pada penelitian ini adalah 78 sampel.Analisis data menggunakan
analisis univariat dan bivariat chi-square.Hasil: Hasil dari penelitian ini adalah
distribusi frekuensi risiko tinggi gangguan makan di RS Bhayangkara TK II
Medan sebesar 83,3%, distribusi frekuensi risiko tinggi gangguan makan di RS
Umum Haji Medan sebesar 62,1%, distribusi frekuensi kejadian amenore
sekunder di RS Bhayangkara TK II Medan sebesar 66,7% dan distribusi frekuensi
kejadian amenore sekunder di RS Umum Haji Medan sebesar
75,8%.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara risiko tinggi
gangguan makan dengan kejadian amenore sekunder.