Abstract:
Pendahuluan:Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan kondisi medis
progresif yang berdampak pada penurunan fungsi ginjal dan sering memerlukan
terapi hemodialisis jangka panjang. Hemodialisis tidak hanya menimbulkan
dampak fisik, tetapi juga berpotensi menimbulkan gangguan psikologis berupa
kecemasan. Kecerdasan spiritual dan lama menjalani hemodialisis diduga
berperan dalam memengaruhi tingkat kecemasan pasien. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual dan lama menjalani
hemodialisis dengan tingkat kecemasan pada pasien PGK di RSUD Dr. Pirngadi
Medan. Metode: menggunakan rancangan kuantitatif analitik dengan pendekatan
cross-sectional. Sampel berjumlah 63 responden yang dipilih dengan teknik
purposive sampling. Instrumen penelitian meliputi kuesioner SISRI-24 untuk
menilai kecerdasan spiritual, kuesioner HARS untuk mengukur tingkat
kecemasan, serta formulir pengisian data dan rekam medis untuk menilai lama
menjalani hemodialisis. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat
menggunakan uji korelasi spearman, serta multivariat menggunakan regresi
logistik ordinal. Hasil: menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki
kecerdasan spiritual tinggi (54%), menjalani hemodialisis 1–3 tahun (47.6%), dan
memiliki tingkat kecemasan sedang (42.9%). Analisis bivariat menunjukkan tidak
terdapat hubungan signifikan antara kecerdasan spiritual dengan tingkat
kecemasan (p=0.150), sedangkan lama menjalani hemodialisis memiliki
hubungan signifikan dengan tingkat kecemasan (p=0.017). Analisis multivariat
menunjukkan bahwa kategori lama menjalani hemodialisis <1 tahun berpengaruh
signifikan terhadap kecemasan (p=0.039), sedangkan kecerdasan spiritual tidak
berpengaruh bermakna (p>0.05). Kesimpulan: lama menjalani hemodialisis
berhubungan dengan tingkat kecemasan, sedangkan kecerdasan spiritual tidak
menunjukkan hubungan signifikan dengan tingkat kecemasan.