Abstract:
Pendahuluan: Premenstrual Syndrome merupakan kumpulan gejala fisik,
emosional, dan perilaku yang muncul untuk fase luteal akhir serta bisa
mengganggu aktivitas sehari-hari. Faktor gaya hidup seperti kebiasaan konsumsi
junk food serta Indeks Massa Tubuh (IMT) diduga berpengaruh terhadap
munculnya PMS. Mahasiswi kedokteran memiliki risiko tinggi merasakan PMS
akibat pola makan tidak teratur dan tingginya beban akademik. Metode: Studi ini
merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional.
Sampel berjumlah 70 mahasiswi aktif angkatan 2022 yang dipilih
mempergunakan purposive sampling. Data konsumsi junk food diukur
mempergunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ), IMT dihitung dari berat
dan tinggi badan, dan PMS dinilai mempergunakan Shortened Premenstrual
Assessment Form (SPAF). Analisis data mempergunakan uji Chi-Square dan
Fisher’s Exact Test dengan tingkat signifikansi p<0,05. Hasil: Kebanyakan
responden memiliki IMT overweight (34,3%) dan frekuensi konsumsi junk food
paling banyak dalam kategori sering (70%). PMS kategori sedang merupakan
yang paling banyak ditemukan (30%). Hubungan IMT dengan kejadian
premenstrual syndrome didapatkan nilai p = 0,033 sedang hingga berat, hubungan
antara kebiasaan konsumsi junk food dengan premenstrual syndrome didapatkan p
= 0,000. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan
konsumsi junk food dan Indeks Massa Tubuh dengan kejadian Premenstrual
Syndrome pada mahasiswi Fakultas Kedokteran UMSU.