Abstract:
Pendahuluan: Abortus merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang
masih sering dijumpai dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas ibu.
Salah satu faktor yang berperan terhadap kejadian abortus adalah jarak kehamilan
yang tidak ideal. Jarak kehamilan yang terlalu pendek dapat menyebabkan organ
reproduksi belum pulih sepenuhnya, sedangkan jarak yang terlalu panjang dapat
menurunkan fungsi fisiologis uterus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian abortus di Rumah Sakit Umum
Haji Medan. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif analitik
observasional dengan rancangan cross-sectional. Populasi penelitian mencakup
seluruh pasien abortus yang tercatat dalam rekam medik periode Januari 2023 -
Maret 2025, dengan teknik total sampling. Data yang digunakan merupakan data
sekunder yang meliputi tanggal persalinan terakhir, HPHT, status kehamilan, usia,
dan paritas ibu. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan
uji Fisher-Freeman-Halton Exact dengan signifikansi p < 0,05. Hasil: Dari 50
pasien abortus, sebanyak 8 orang (16%) memiliki jarak kehamilan pendek (<18
bulan), 28 orang (56%) jarak kehamilan ideal (18–59 bulan), dan 14 orang (28%)
jarak kehamilan panjang (≥60 bulan). Seluruh pasien yang tidak mengalami abortus
memiliki jarak kehamilan ideal (100%). Hasil uji Fisher-Freeman-Halton Exact
menunjukkan adanya hubungan bermakna antara jarak kehamilan dengan kejadian
abortus (p = 0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara jarak
kehamilan dengan kejadian abortus di Rumah Sakit Umum Haji Medan. Ibu dengan
jarak kehamilan yang terlalu pendek maupun terlalu panjang memiliki risiko lebih
tinggi mengalami abortus dibandingkan dengan jarak kehamilan yang ideal.