<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Mechanical Engineering</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Teknik Mesin</description>
<pubDate>Sat, 16 May 2026 19:48:59 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-05-16T19:48:59Z</dc:date>
<item>
<title>ANALISA TINGKAT VIBRASI ISO 10816-3 PADA MESIN TURBIN UAP AKIBAT BEBAN DAN KECEPATAN OPERASIONAL</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30938</link>
<description>ANALISA TINGKAT VIBRASI ISO 10816-3 PADA MESIN TURBIN UAP AKIBAT BEBAN DAN KECEPATAN OPERASIONAL
IRVAN, EVENDI
Turbin uap adalah salah satu jenis turbin, Dimana Turbin uap termasuk dalam &#13;
kelompok pesawat-pesawat konversi energy potensial uap menjadi energy &#13;
mekanik pada poros turbin uap. Poros turbin uap langsung atau dengan bantuan &#13;
roda gigi reduksi dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menganalisis tingkat vibrasi pada mesin turbin uap berdasarkan &#13;
standar ISO 10816-3 serta mengidentifikasi pengaruh variasi beban operasional &#13;
terhadap nilai vibrasi. Pengukuran dilakukan pada empat titik bearing, yaitu &#13;
bearing pinion 1, bearing pinion 2, bearing bull gear 1, dan bearing bull gear 2 &#13;
pada posisi vertikal dan horizontal. Metode yang digunakan adalah pengukuran &#13;
langsung menggunakan alat vibration meter serta pengolahan data log sheet &#13;
operator selama turbin beroperasi pada berbagai beban. Parameter yang diamati &#13;
adalah nilai kecepatan getaran (velocity RMS) dalam satuan mm/s. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan bahwa nilai vibrasi pada seluruh titik pengukuran masih berada &#13;
dalam batas aman menurut standar ISO 10816-3 untuk mesin kategori Group 1 &#13;
dengan pondasi rigid. Nilai vibrasi tertinggi ditemukan pada bearing pinion 2, &#13;
namun masih berada pada zona operasi normal. Selain itu, peningkatan beban &#13;
operasional menunjukkan kecenderungan peningkatan nilai vibrasi, meskipun &#13;
tidak signifikan terhadap kondisi keseluruhan mesin. Dengan demikian, &#13;
monitoring vibrasi secara berkala sangat penting untuk menjaga keandalan turbin &#13;
dan mencegah terjadinya kerusakan dini pada komponen mesin.
</description>
<pubDate>Tue, 03 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30938</guid>
<dc:date>2026-02-03T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>ANALISIS KINERJA MESIN PEMOTONGAN TEMPURUNG KELAPA</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30847</link>
<description>ANALISIS KINERJA MESIN PEMOTONGAN TEMPURUNG KELAPA
DZUL, FADLI TRIWIBOWO
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kapasitas dan efisiensi pemotongan &#13;
tempurung kelapa secara manual serta belum optimalnya kinerja mesin yang telah &#13;
ada, sehingga diperlukan analisis kinerja untuk meningkatkan produktivitas dan &#13;
keseragaman hasil. Research gap terletak pada belum adanya evaluasi &#13;
komprehensif terhadap kapasitas kerja efektif, kapasitas kerja teoritis, efisiensi, dan &#13;
keseragaman potongan ukuran 4×4 cm pada mesin pemotong tempurung kelapa &#13;
berpenggerak motor listrik 1 HP. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana &#13;
kinerja mesin pemotong tempurung kelapa, bagaimana tingkat efisiensi kerjanya, &#13;
dan bagaimana keseragaman hasil potongannya.Hasil penelitian menunjukkan &#13;
kapasitas kerja efektif masing-masing sebesar 747 kg/jam (8 kg), 935 kg/jam (10 kg), &#13;
dan 1120 kg/jam (12 kg), dengan kapasitas kerja teoritis 67 kg/jam. Tingkat &#13;
keseragaman potongan ukuran 4×4 cm rata-rata mencapai 68%. Pembahasan &#13;
menunjukkan bahwa putaran mesin 2800 rpm, ketebalan pisau 3 mm, dan panjang &#13;
pisau 160 mm berpengaruh terhadap performa pemotongan.Kesimpulannya, mesin &#13;
mampu meningkatkan produktivitas namun keseragaman hasil masih perlu &#13;
ditingkatkan. Disarankan dilakukan modifikasi desain pisau, pengaturan putaran &#13;
optimal, serta penambahan sistem kontrol untuk meningkatkan efisiensi dan &#13;
kualitas potongan.
</description>
<pubDate>Thu, 09 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30847</guid>
<dc:date>2026-04-09T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP LAJU KOROSI STAINLESS 304 DALAM MINYAK CAMPURAN PIROLISIS PLASTIK, BIODIESEL, DAN SOLAR</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30836</link>
<description>PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP LAJU KOROSI STAINLESS 304 DALAM MINYAK CAMPURAN PIROLISIS PLASTIK, BIODIESEL, DAN SOLAR
RIYAN, AZHAR HARAHAP
Korosi adalah salah satu isu yang relevan dengan masalah perbandingan kompatibilitas biodiesel dengan berbagai jenis logam. Komposisi biodiesel mempengaruhi ketahanan korosi logam pada sirkuit bahan bakar. Biodiesel menjadi lebih korosif dengan kehadiran air dan asam lemak bebas. penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh waktu perendaman terhadap laju korosi campuran minyak pirolisis plastik, biodiesel dan solar, Stainless steel 304 yang mungkin mengandung senyawa asam lemak bebas yang dapat mempercepat proses terjadi nya korosi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pengaruh waktu perendaman campuran bahan bakar terhadap laju korosi pada waktu perendaman 500 jam, B0 (Solar 100%), memiliki laju korosi terendah 0,001439391 mm/tahun , sedangkan laju korosi tertinggi pada 500 jam didapatkan pada B40 (Solar 60%, mpp+biodiesel 40%) 0,002630013 mm/tahun. Pada perendaman 2000 jam, menunjukkan kecenderungan nilai laju korosi yang mulai stabil, kenaikan dari 1500 ke 2000 jam sangat kecil, menunjukkan proses korosi mulai melambat, disebabkan oleh terbentuknya lapisan pasif atau produk korosi yang menutupi permukaan stainless steel dan menghambat reaksi lebih lanjut. Perbedaan laju korosi antara B0 0,000235 mm/tahun dan B40 (Solar 60%, mpp+biodiesel 40%) 0,000349 mm/tahun. Dari hasil pengamatan uji SEM pada Stainless steel, dapat disimpulkan bahwa waktu perendaman Stainless steel 304 dalam campuran solar, biodiesel, dan minyak pirolisis memberikan pengaruh nyata terhadap morfologi permukaan. hal ini sejalan dengan hasil uji laju korosi sebelumnya, di mana peningkatan kandungan biodiesel dan minyak pirolisis menyebabkan kenaikan laju korosi Stainless steel.
</description>
<pubDate>Tue, 17 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30836</guid>
<dc:date>2026-03-17T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PEMBUATAN FILL BERBENTUK HONEYCOMB PADA WET  COOLING TOWER</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30797</link>
<description>PEMBUATAN FILL BERBENTUK HONEYCOMB PADA WET  COOLING TOWER
RIKI, KURNIANSYAH
Menara pendingin basah (wet cooling tower) adalah perangkat yang digunakan &#13;
untuk menghilangkan panas dari sistem pendinginan, biasanya dalam industri atau &#13;
pembangkit listrik. Cara kerjanya melibatkan evaporasi air: dengan cara air panas &#13;
dari sistem disirkulasikan (disalurkan) ke atas menara pendingin (cooling tower), &#13;
kemudian air disebar melewati bahan pengisi (fill), sehingga terjadi kontak &#13;
langsung antara air dengan aliran udara. Proses evaporasi ini menghilangkan &#13;
panas dari air, sehingga air yang kembali ke sistem memiliki suhu yang lebih &#13;
rendah. Bagian yang berperan penting dalam proses pendinginan pada cooling &#13;
tower adalah pengisi (fill). Tujuan penelitian ini membuat fill berbentuk &#13;
honeycomb pada wet cooling tower menggunakan material plat aluminium. Proses &#13;
pembuatan melibatkan pemotongan, penekukan, pelubangan, dan penyusunan plat &#13;
untuk membentuk struktur yang mendukung aliran udara. Proses pembuatan fill &#13;
honeycomb menggunakan meteran, jangka sorong, gunting plat, spidol, mistar &#13;
baja, mal, bor tangan, nylon cable tie, tang potong, tang kombinasi. Membuat fill &#13;
honeycomb menggunakan bahan plat aluminium ketebalan 0,20 mm. Plat &#13;
aluminium  sebelum dilakukan penekukan memiliki panjang awal 415 mm dan &#13;
lebar awal 150 mm. Hasil akhir plat aluminium yang telah dilakukan penekukan &#13;
memiliki panjang 250 mm dan lebar 150 mm. Lubang pada plat aluminium &#13;
berdiameter 2 mm, fungsinya untuk menyatukan plat aluminium menggunakan &#13;
nylon cable tie. Hasil akhir fill honeycomb terdiri dari 20 lembar susunan plat &#13;
aluminium yang telah di tekuk, kemudian disatukan menggunakan nylon cable tie. &#13;
Dimensi fill honeycomb yang telah dibuat memiliki panjang 250 mm, lebar 230 &#13;
mm, dan tinggi 150 mm. Jumlah fill honeycomb yang dibuat sebanyak 3 unit.
</description>
<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30797</guid>
<dc:date>2026-04-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
