<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Food Technology</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/20</link>
<description>Teknologi Hasil Pangan</description>
<pubDate>Wed, 10 Jun 2026 07:10:31 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-06-10T07:10:31Z</dc:date>
<item>
<title>FORMULASIT EPUNG MOCAF (ModifiedCassava Flour) dan TEPUNG BIJI KETAPANG (Terminalia catappa) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PEMBUATAN ROTI GLUTEN-FREE</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31602</link>
<description>FORMULASIT EPUNG MOCAF (ModifiedCassava Flour) dan TEPUNG BIJI KETAPANG (Terminalia catappa) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU PEMBUATAN ROTI GLUTEN-FREE
SUCI, RAMADANI
Roti gluten-free merupakan alternatif pangan yang dibutuhkan bagi&#13;
penderita intoleransi gluten atau celiac disease. Namun, produk roti bebas gluten&#13;
sering mengalami kendala dari segi tekstur, rasa, dan nilai gizi. Penelitiani inii&#13;
bertujuani untuki memformulasikan tepung mocaf (Modified Cassava Flour) dan&#13;
tepung biji ketapang (Terminalia catappa) sebagai bahan baku lokal dalam&#13;
pembuatan roti gluten-free. Tepung mocaf dipilih karena bebas gluten dan&#13;
memiliki sifat fungsional yang mirip dengan terigu, sedangkan biji ketapang kaya&#13;
protein dan lemak sehat yang berpotensi meningkatkan nilai gizi serta mutu&#13;
organoleptik. Metode penelitian yang digunakan berupa Rancangan Acak Lengkap&#13;
(RAL) faktorial dengan dua faktor, yaitu Faktor I adalah persentase tepung mocaf&#13;
dan biji ketapang (MK1 = 100%:0%, MK2 = 95%:5%, MK3 = 90%:10%,&#13;
MK4 =85%:15%) dan Faktor II adalah suhu pengovenan (SP1 = 160°C, SP2 =&#13;
170°C, SP3 = 180°C, SP4 = 190°C). Masing-masing perlakuan dilakukan dua kali&#13;
pengulangan, sehingga jumlah keseluruhan unit percobaan adalah 16. Parameter&#13;
yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, daya kembang, daya serap air, serta uji&#13;
organoleptik (aroma, rasa, warna, tekstur). Berdasarkan hasil penelitian, dapat&#13;
diketahui bahwa penambahan tepung biji ketapang memberikan pengaruh berbeda&#13;
sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar abu, kadar air, daya kembang, daya serap&#13;
air, serta organoleptik aroma dan tekstur, Sementara itu, pada aspek organoleptik&#13;
rasa dan warna tidak berbeda nyata. Suhu pengovenan menunjukkan pengaruh&#13;
berbeda sangat nyata (p&lt;0,01) terhadap kadar abu, kadar air, daya kembang, daya&#13;
serap air, serta organoleptik aroma, rasa, dan tekstur, tetapi pada organoleptik&#13;
warna tidak berbeda nyata. Interaksi antara persentase mocaf–ketapang dengan&#13;
suhu pengovenan juga tidak diperoleh pada formulasi MK4 (85% mocaf : 15%&#13;
ketapang) dengan suhu pengovenan 190°C (SP4). Perlakuan ini menghasilkan roti&#13;
dengan kadar abu tinggi (menunjukkan kandungan mineral), kadar air stabil, daya&#13;
kembang dan daya serap optimal, serta nilai organoleptik (aroma, rasa, warna,&#13;
dan tekstur) yang paling disukai panelis.
</description>
<pubDate>Mon, 02 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31602</guid>
<dc:date>2026-03-02T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>KARAKTERISTIK FISIOKIMIA MAYONES BERBASIS CAMPURAN MINYAK KEDELAI (Glycine max.) DAN MINYAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.)</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31599</link>
<description>KARAKTERISTIK FISIOKIMIA MAYONES BERBASIS CAMPURAN MINYAK KEDELAI (Glycine max.) DAN MINYAK BIJI KETAPANG (Terminalia catappa L.)
FATIHA, SYAHRANI
Mayones merupakan produk emulsi minyak dalam air yang banyak &#13;
digunakan sebagai dressing sauce dan saus pendamping. Komposisi mayones &#13;
sebagian besar terdiri dari minyak nabati dan bahan lain yaitu kuning telur, air &#13;
perasan lemon, garam, gula, merica, mustard, dan CMC (Carboxymethyl &#13;
Cellulose).  Minyak kedelai sering digunakan karena sifatnya yang mudah diemulsi, &#13;
namun minyak biji ketapang (Terminalia catappa L.) memiliki potensi sebagai &#13;
alternatif sumber minyak nabati dalam pembuatan mayones. Selain itu lama waktu &#13;
pengadukan minyak dalam terbentuknya emulsi mayones menjadi faktor yang &#13;
dapat diperhatikan untuk kualitas fisikokimia dan penerimaan sensori mayones. &#13;
Penelitian ini bertujuan, (1) Untuk memanfaatkan potensi minyak biji ketapang &#13;
(Terminalia catappa L.) sebagai campuran dalam produk olahan pangan, (2) Untuk &#13;
mengetahui karakteristik mayones yang dihasilkan dengan formulasi minyak &#13;
kedelai (Glycine max.) dan minyak biji ketapang (Terminalia catappa L.), dan (3) &#13;
Untuk mengetahui lama waktu pengadukan minyak pada mayones yang dihasilkan. &#13;
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas &#13;
Pertanian &#13;
Universitas &#13;
Muhammadiyah &#13;
Sumatera &#13;
Utara. Penelitian &#13;
ini menerapkan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang bersifat faktorial dengan &#13;
dua kali pengulangan. Faktor I adalah formulasi minyak kedelai dan minyak biji &#13;
ketapang (F) terdiri dari 4 taraf yaitu F1= 100% minyak kedelai : 0% minyak biji &#13;
ketapang, F2= 95% minyak kedelai : 5% minyak biji ketapang, F3= 90% minyak &#13;
kedelai : 10% minyak biji ketapang, dan F4= 85% minyak kedelai : 15% minyak &#13;
biji ketapa. Faktor II  adalah lama waktu pengadukan minyak (L) terdiri dari 4 taraf &#13;
yaitu L1= 5 menit, L2= 7 menit, L3= 9 menit, dan L4= 11 menit. Parameter yang &#13;
diamati meliputi kadar air, kadar protein, kadar lemak, kestabilan emulsi, uji &#13;
organoleptik rasa, uji organoleptik warna, dan uji organoleptik aroma. Formulasi &#13;
minyak kedelai dan minyak biji ketapang memberikan pengaruh yang berbeda &#13;
sangat nyata pada taraf p&lt;0,01 terhadap kadar air, kadar protein, kadar lemak, &#13;
kestabilan emulsi, uji organoleptik rasa, uji organoleptik warna, dan uji &#13;
organoleptik aroma pada mayones. Lama waktu pengadukan minyak memberikan &#13;
pengaruh yang berbeda sangat nyata pada taraf p&lt;0,01 terhadap kadar air, kadar &#13;
protein, kadar lemak, kestabilan emulsi, uji organoleptik rasa, uji organoleptik &#13;
warna, dan uji organoleptik aroma pada mayones. Interaksi antara formulasi minyak &#13;
kedelai dan minyak biji ketapang dan lama waktu pengadukan minyak memberikan &#13;
pengaruh yang berbeda sangat nyata pada taraf p&lt;0,01 terhadap kadar air, kadar &#13;
lemak, kestabilan emulsi, dan uji organoleptik aroma serta memberikan pengaruh &#13;
berbeda tidak nyata pada taraf p&gt;0,05 terhadap kadar protein, uji organoleptik rasa &#13;
dan uji organoleptik warna pada mayones. Berdasarkan seluruh parameter yang &#13;
diuji karakteristik fisikokimia mayones terbaik terdapat pada F2 dengan formulasi &#13;
95% minyak kedelai : 5% minyak biji ketapang serta lama waktu pengadukan &#13;
minyak pada 11 menit. Selain itu pada peneliti selanjutnya lebih diperhatikan dalam &#13;
pemurnian minyak biji ketapang dan kecepatan pengadukan dalam pembuatan &#13;
mayones.
</description>
<pubDate>Mon, 02 Mar 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31599</guid>
<dc:date>2026-03-02T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>PENGARUH METODE PERLAKUAN TERHADAP PENGERINGAN KERIPIK JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30923</link>
<description>PENGARUH METODE PERLAKUAN TERHADAP PENGERINGAN KERIPIK JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)
SATRIA, ANANTRA ZEBUA
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) termasuk dalam keluarga Pleurotaceae &#13;
dan genus Pleurotus. Jamur ini memiliki permukaan yang halus dan sedikit &#13;
berminyak saat lembab, dengan tepi yang agak bergelombang. Tangkai jamur &#13;
tiram terletak di samping tudung dan berwarna putih, sementara daging buahnya &#13;
juga putih. Jamur ini memiliki tangkai bercabang dan tudung yang besar, dengan &#13;
diameter antara 3-15 cm. Jamur tiram tumbuh dengan baik pada kayu lunak di &#13;
ketinggian sekitar 600 meter dari permukaan laut. Metode yang di gunakan dalam &#13;
penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dua faktorial dengan faktor pertama &#13;
yaitu Faktor I : Jenis perlakuan (P) dimana P0 = Tanpa perlakuan, P1 = Blanching &#13;
70º selama 5 menit, P2 = Pengukusan dengn suhu 850 selama 20 menit, P3 = &#13;
Natrium Karbonat (Na2CO3) selama 10 menit dan Faktor II : Lama pengeringan &#13;
suhu 70° C (L) L1 = 1,5 jam, L2 = 2 jam, L3 = 2,5 jam, L4 = 3 Jam. Setiap &#13;
perlakuan di ulang sebanyak 2x sehingga di peroleh 32 unit percobaan. Metode &#13;
analisis data yang di gunakan adalah ANOVA dengan parameter yang di uji &#13;
meliputi kadar air, protein, antioksidan, susut bobot, warna, organoleptik tekstur, &#13;
aroma dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis perlakuan berpengaruh &#13;
sangat nyata terhadap keseluruhan parameter yang di uji, begitupun dengan lama &#13;
pengeringan semuanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap &#13;
parameter yang di uji. Berdasarkan penelitian ini di peroleh perlakuan terbaik &#13;
yaitu P2L4 yaitu dengan jenis perlakuan pengukusan dan waktu 3 jam.
</description>
<pubDate>Thu, 16 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30923</guid>
<dc:date>2026-04-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>SIFAT FISIKO KIMIA DAUN KERING SAMBILOTO (Andrographis paniculata) pada PENGERINGAN DEHUMIDIFIKASI MENGGUNAKAN PENDINGIN EFEK PELTIER</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30710</link>
<description>SIFAT FISIKO KIMIA DAUN KERING SAMBILOTO (Andrographis paniculata) pada PENGERINGAN DEHUMIDIFIKASI MENGGUNAKAN PENDINGIN EFEK PELTIER
EDRIA, DEMA DWI SURYA
Komponen aktif sambiloto (Andrographis paniculata), andrographolide, &#13;
dikenal karena kemampuannya untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh, &#13;
melawan bakteri, dan mengurangi peradangan. Herba ini kaya akan manfaat &#13;
kesehatan. Peralatan yang terpasang pada tas sadel akan dikeringkan dalam &#13;
penelitian ini menggunakan efek Peltier. Teknologi pengeringan Peltier dapat &#13;
mengurangi dampak buruk kelembapan tinggi terhadap sifat fisik sambiloto, seperti &#13;
degradasi warna dan teksturnya. Penelitian ini akan menganalisis sifat kimia dan &#13;
fisik tanah sambiloto menggunakan probe kelembapan Peltier. Penelitian ini akan &#13;
melacak tekanan udara, aktivitas udara, dan keberadaan agen penyegel tanah aktif &#13;
setelah penetrasi untuk mengembangkan metode penetrasi yang lebih baik dan lebih &#13;
aman. Peneliti menggunakan pendekatan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan &#13;
mempertimbangkan dua variabel: jumlah bahan bakar (105-270 gram) dan durasi &#13;
memasak (7-12 jam). Yang perlu dinilai adalah konsentrasi antioksidan, aroma &#13;
organoleptik, warna (L*, a*, b*), dan kelarutan dalam air. Studi ini menemukan &#13;
bahwa durasi pertumbuhan tanaman secara signifikan memengaruhi profil aroma &#13;
dan rasa, serta kandungan udara kering, metrik warna (L*, a*, b*), dan waktu yang &#13;
dibutuhkan untuk menanam bola akar. Pada radar, terdapat hubungan terbalik yang &#13;
signifikan (p&lt;0,01) antara jumlah bahan dalam nosel sambiloto dan kadar &#13;
antioksidan, kandungan udara, parameter warna L*, a*, b*, dan karakteristik rasa &#13;
dan aroma organoleptik. Hubungan antara jumlah bahan baku dan lamanya &#13;
pengeringan secara signifikan dipengaruhi (p&lt;0,01) oleh parameter antioksidan, &#13;
kelembaban udara, metrik warna L*, a*, b*, dan evaluasi organoleptik aroma dan &#13;
rasa saat mengeringkan sambiloto basah. Baik Anda menguji antioksidan setelah &#13;
10 menit penanaman atau setelah 7 menit, jumlah benih yang Anda gunakan sangat &#13;
memengaruhi seberapa cepat benih tersebut berkecambah.
</description>
<pubDate>Thu, 22 Jan 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30710</guid>
<dc:date>2026-01-22T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
