<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/25">
<title>Mechanical Engineering</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/25</link>
<description>Teknik Mesin</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31424"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30938"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30847"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30836"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-06-06T20:05:46Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31424">
<title>ANALISIS PERHITUNGAN GAYA APUNG MESIN OIL SKIMMER</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31424</link>
<description>ANALISIS PERHITUNGAN GAYA APUNG MESIN OIL SKIMMER
ALFI, SYAHRIL
Pencemaran minyak pada permukaan air dapat menurunkan kualitas lingkungan &#13;
dan mengganggu proses pengolahan air. Oil skimmer merupakan perangkat yang &#13;
digunakan untuk memisahkan minyak dari air dengan memanfaatkan prinsip gaya &#13;
apung. Pada oil skimmer tipe drum roller, kedalaman roller menjadi parameter &#13;
penting karena berpengaruh terhadap efektivitas pemisahan minyak. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menganalisis besar gaya apung yang bekerja pada sistem serta &#13;
menentukan kedalaman roller pada variasi beban fluida sebesar 10 liter dan 15 liter. &#13;
Penelitian dilakukan pada waduk uji berukuran 4 × 3 meter melalui pengukuran &#13;
langsung terhadap kedalaman terendam pelampung, massa total sistem, gaya &#13;
apung, dan gaya berat. Perhitungan gaya apung dilakukan  menggunakan Hukum &#13;
Archimedes untuk sistem dua fluida, yaitu minyak dan air, sedangkan kedalaman &#13;
roller ditentukan berdasarkan kondisi keseimbangan gaya (Fₐ = W). Hasil penelitian &#13;
menunjukkan bahwa gaya apung meningkat seiring bertambahnya beban fluida. &#13;
Pada beban 10 liter diperoleh gaya apung sebesar 389,81 N dengan kedalaman &#13;
roller 0,0415 m, sedangkan pada beban 15 liter nilai gaya apung meningkat menjadi &#13;
546,25 N dengan kedalaman roller 0,0476 m. Pada kedua kondisi tersebut, gaya &#13;
apung yang bekerja lebih besar dibandingkan gaya berat sistem (Fₐ &gt; W), sehingga &#13;
oil skimmer dapat beroperasi secara keseimbangan. Penelitian ini menyimpulkan &#13;
bahwa variasi beban fluida berpengaruh terhadap besar gaya apung dan kedalaman &#13;
roller. Kedalaman roller yang efektif dicapai ketika gaya apung mencukupi untuk &#13;
menopang sistem sehingga proses pemisahan minyak dari permukaan air dapat &#13;
berlangsung dengan baik.
</description>
<dc:date>2026-06-05T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30938">
<title>ANALISA TINGKAT VIBRASI ISO 10816-3 PADA MESIN TURBIN UAP AKIBAT BEBAN DAN KECEPATAN OPERASIONAL</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30938</link>
<description>ANALISA TINGKAT VIBRASI ISO 10816-3 PADA MESIN TURBIN UAP AKIBAT BEBAN DAN KECEPATAN OPERASIONAL
IRVAN, EVENDI
Turbin uap adalah salah satu jenis turbin, Dimana Turbin uap termasuk dalam &#13;
kelompok pesawat-pesawat konversi energy potensial uap menjadi energy &#13;
mekanik pada poros turbin uap. Poros turbin uap langsung atau dengan bantuan &#13;
roda gigi reduksi dihubungkan dengan mekanisme yang digerakkan. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menganalisis tingkat vibrasi pada mesin turbin uap berdasarkan &#13;
standar ISO 10816-3 serta mengidentifikasi pengaruh variasi beban operasional &#13;
terhadap nilai vibrasi. Pengukuran dilakukan pada empat titik bearing, yaitu &#13;
bearing pinion 1, bearing pinion 2, bearing bull gear 1, dan bearing bull gear 2 &#13;
pada posisi vertikal dan horizontal. Metode yang digunakan adalah pengukuran &#13;
langsung menggunakan alat vibration meter serta pengolahan data log sheet &#13;
operator selama turbin beroperasi pada berbagai beban. Parameter yang diamati &#13;
adalah nilai kecepatan getaran (velocity RMS) dalam satuan mm/s. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan bahwa nilai vibrasi pada seluruh titik pengukuran masih berada &#13;
dalam batas aman menurut standar ISO 10816-3 untuk mesin kategori Group 1 &#13;
dengan pondasi rigid. Nilai vibrasi tertinggi ditemukan pada bearing pinion 2, &#13;
namun masih berada pada zona operasi normal. Selain itu, peningkatan beban &#13;
operasional menunjukkan kecenderungan peningkatan nilai vibrasi, meskipun &#13;
tidak signifikan terhadap kondisi keseluruhan mesin. Dengan demikian, &#13;
monitoring vibrasi secara berkala sangat penting untuk menjaga keandalan turbin &#13;
dan mencegah terjadinya kerusakan dini pada komponen mesin.
</description>
<dc:date>2026-02-03T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30847">
<title>ANALISIS KINERJA MESIN PEMOTONGAN TEMPURUNG KELAPA</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30847</link>
<description>ANALISIS KINERJA MESIN PEMOTONGAN TEMPURUNG KELAPA
DZUL, FADLI TRIWIBOWO
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kapasitas dan efisiensi pemotongan &#13;
tempurung kelapa secara manual serta belum optimalnya kinerja mesin yang telah &#13;
ada, sehingga diperlukan analisis kinerja untuk meningkatkan produktivitas dan &#13;
keseragaman hasil. Research gap terletak pada belum adanya evaluasi &#13;
komprehensif terhadap kapasitas kerja efektif, kapasitas kerja teoritis, efisiensi, dan &#13;
keseragaman potongan ukuran 4×4 cm pada mesin pemotong tempurung kelapa &#13;
berpenggerak motor listrik 1 HP. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana &#13;
kinerja mesin pemotong tempurung kelapa, bagaimana tingkat efisiensi kerjanya, &#13;
dan bagaimana keseragaman hasil potongannya.Hasil penelitian menunjukkan &#13;
kapasitas kerja efektif masing-masing sebesar 747 kg/jam (8 kg), 935 kg/jam (10 kg), &#13;
dan 1120 kg/jam (12 kg), dengan kapasitas kerja teoritis 67 kg/jam. Tingkat &#13;
keseragaman potongan ukuran 4×4 cm rata-rata mencapai 68%. Pembahasan &#13;
menunjukkan bahwa putaran mesin 2800 rpm, ketebalan pisau 3 mm, dan panjang &#13;
pisau 160 mm berpengaruh terhadap performa pemotongan.Kesimpulannya, mesin &#13;
mampu meningkatkan produktivitas namun keseragaman hasil masih perlu &#13;
ditingkatkan. Disarankan dilakukan modifikasi desain pisau, pengaturan putaran &#13;
optimal, serta penambahan sistem kontrol untuk meningkatkan efisiensi dan &#13;
kualitas potongan.
</description>
<dc:date>2026-04-09T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30836">
<title>PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP LAJU KOROSI STAINLESS 304 DALAM MINYAK CAMPURAN PIROLISIS PLASTIK, BIODIESEL, DAN SOLAR</title>
<link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30836</link>
<description>PENGARUH WAKTU PERENDAMAN TERHADAP LAJU KOROSI STAINLESS 304 DALAM MINYAK CAMPURAN PIROLISIS PLASTIK, BIODIESEL, DAN SOLAR
RIYAN, AZHAR HARAHAP
Korosi adalah salah satu isu yang relevan dengan masalah perbandingan kompatibilitas biodiesel dengan berbagai jenis logam. Komposisi biodiesel mempengaruhi ketahanan korosi logam pada sirkuit bahan bakar. Biodiesel menjadi lebih korosif dengan kehadiran air dan asam lemak bebas. penelitian ini bertujuan untuk menganalisi pengaruh waktu perendaman terhadap laju korosi campuran minyak pirolisis plastik, biodiesel dan solar, Stainless steel 304 yang mungkin mengandung senyawa asam lemak bebas yang dapat mempercepat proses terjadi nya korosi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, pengaruh waktu perendaman campuran bahan bakar terhadap laju korosi pada waktu perendaman 500 jam, B0 (Solar 100%), memiliki laju korosi terendah 0,001439391 mm/tahun , sedangkan laju korosi tertinggi pada 500 jam didapatkan pada B40 (Solar 60%, mpp+biodiesel 40%) 0,002630013 mm/tahun. Pada perendaman 2000 jam, menunjukkan kecenderungan nilai laju korosi yang mulai stabil, kenaikan dari 1500 ke 2000 jam sangat kecil, menunjukkan proses korosi mulai melambat, disebabkan oleh terbentuknya lapisan pasif atau produk korosi yang menutupi permukaan stainless steel dan menghambat reaksi lebih lanjut. Perbedaan laju korosi antara B0 0,000235 mm/tahun dan B40 (Solar 60%, mpp+biodiesel 40%) 0,000349 mm/tahun. Dari hasil pengamatan uji SEM pada Stainless steel, dapat disimpulkan bahwa waktu perendaman Stainless steel 304 dalam campuran solar, biodiesel, dan minyak pirolisis memberikan pengaruh nyata terhadap morfologi permukaan. hal ini sejalan dengan hasil uji laju korosi sebelumnya, di mana peningkatan kandungan biodiesel dan minyak pirolisis menyebabkan kenaikan laju korosi Stainless steel.
</description>
<dc:date>2026-03-17T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
