<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Mechanical Engineering</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/25" rel="alternate"/>
<subtitle>Teknik Mesin</subtitle>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/25</id>
<updated>2026-04-05T11:11:44Z</updated>
<dc:date>2026-04-05T11:11:44Z</dc:date>
<entry>
<title>RANCANG BANGUN SISTEM PEMANAS DAN CONTROL  TEMPERATUR PADA MESIN PENGERING TERINTEGRASI PADA  MESIN PENGGILING PADI</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30144" rel="alternate"/>
<author>
<name>MUHAMMAD, HANIF NUR HIDAYAT</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30144</id>
<updated>2026-03-03T04:06:04Z</updated>
<published>2025-12-17T00:00:00Z</published>
<summary type="text">RANCANG BANGUN SISTEM PEMANAS DAN CONTROL  TEMPERATUR PADA MESIN PENGERING TERINTEGRASI PADA  MESIN PENGGILING PADI
MUHAMMAD, HANIF NUR HIDAYAT
Pengeringan padi merupakan tahap penting dalam penanganan pascapanen &#13;
untuk menurunkan kadar air gabah hingga mencapai standar aman penyimpanan &#13;
sebesar ≤14%, namun metode pengeringan tradisional menggunakan sinar matahari &#13;
masih memiliki keterbatasan seperti ketergantungan cuaca, waktu pengeringan &#13;
yang lama, dan kualitas hasil yang tidak seragam. Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
merancang dan membangun sistem pemanas serta kontrol temperatur pada mesin &#13;
pengering padi yang terintegrasi dengan mesin penggiling padi. Metode yang &#13;
digunakan meliputi perancangan sistem pemanas menggunakan tubular heater &#13;
listrik 1000 Watt dengan rentang suhu 40–60°C, pengendalian suhu menggunakan &#13;
sensor NTC thermistor berbasis mikrokontroler, serta distribusi udara panas &#13;
menggunakan blower. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem mampu &#13;
mempertahankan suhu pada setpoint 40°C, 50°C, dan 60°C dengan toleransi ±1°C. &#13;
Pengeringan 10 kg gabah dengan kadar air awal ±22% pada suhu 50°C &#13;
membutuhkan waktu 2,5 jam untuk mencapai kadar air 14%. Kesimpulannya, &#13;
sistem pemanas dan kontrol temperatur yang dirancang mampu meningkatkan &#13;
efisiensi pengeringan, mempercepat waktu proses, serta menghasilkan kualitas &#13;
gabah yang lebih baik dibandingkan metode tradisional, sehingga layak diterapkan &#13;
pada pengeringan padi skala kecil hingga menengah.
</summary>
<dc:date>2025-12-17T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT    MEKANIK PADA BAJA ST 37 DALAM PENGELASAN SMAW  DENGAN ELEKTRODA E7018</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30050" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muhammad, Febrian</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30050</id>
<updated>2026-02-11T03:13:54Z</updated>
<published>2026-01-29T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK TERHADAP SIFAT    MEKANIK PADA BAJA ST 37 DALAM PENGELASAN SMAW  DENGAN ELEKTRODA E7018
Muhammad, Febrian
Baja ST 37 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan &#13;
jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai &#13;
bidang industri. Pengelasan yang sering digunakan dalam dunia kontruksi secara &#13;
umum adalah pengelasan dengan menggunakan busur nyala logam terlindungi &#13;
atau bisa disebut Shielded Metal Arc Welding (SMAW). Penelitian ini  bertujuan &#13;
untuk menganalisis pengaruh kuat arus listrik dan sambungan las SMAW tersebut &#13;
yang akan diuji kekuatannya  untuk mengetahui sifat mekanik pada baja ST 37 &#13;
dengan menggunakan pengujian tarik. Dari hasil penelitian pengaruh kekuatan &#13;
arus listrik pada pengelasan SMAW dengan menggunakan elektroda E7018, nilai &#13;
kekuatan tarik maksimum dengan variasi arus 100 ampere, 120 ampere, 140 &#13;
ampere, menunjukan bahwa nilai tertinggi adalah 311,43 MPa dengan arus &#13;
pengelasan 140 ampere. Titik terendah ada pada variasi 100 ampere dengan nilai &#13;
257,29 MPa. Sedangkan nilai regangan tarik menunjukan bahwa nilai tertinggi &#13;
adalah 12,41 % dengan arus pengelasan 120 ampere. Titik terendah ada pada &#13;
variasi 100 ampere dengan nilai 8,97 %. Kuat arus pengelasan sangat berpengaruh &#13;
pada kekuatan tarik dan regangan tarik pada suatu material. Sedangkan hasil &#13;
penelitian pada kekuatan sambungan pengelasan, Arus 100 A menghasilkan &#13;
kekuatan tarik paling rendah akibat penetrasi las yang kurang sempurna. Arus 120 &#13;
A menunjukkan kombinasi terbaik antara kekuatan dan keuletan, ditandai dengan &#13;
nilai tegangan tarik dan regangan yang relatif tinggi dan stabil. Sementara itu, &#13;
arus 140 A memberikan kekuatan tarik tertinggi, namun berpotensi menurunkan &#13;
keuletan pada beberapa spesimen akibat panas masukan yang berlebihan.
</summary>
<dc:date>2026-01-29T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>RANCANG BANGUN TABUNG APAR TEPUNG BIJI DURIAN</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29752" rel="alternate"/>
<author>
<name>YUDA, HENDRAWAN</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29752</id>
<updated>2025-11-04T03:39:56Z</updated>
<published>2025-03-18T00:00:00Z</published>
<summary type="text">RANCANG BANGUN TABUNG APAR TEPUNG BIJI DURIAN
YUDA, HENDRAWAN
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) merupakan sebuah alat yang digunakan untuk &#13;
memadamkan api atau mengendalikan kebakaran kecil. Alat Pemadam Api Ringan &#13;
(APAR) pada umumnya berbentuk tabung yang diisikan dengan bahan pemadam api &#13;
yang bertekanan tinggi Sebagai awal penelitian ini,Terkait banyaknya limbah biji &#13;
durian yang tidak dapat dimanfaatkan, maka dari itu penulis tertarik untuk merancang &#13;
bangun tabung apar tepung biji durian agar dapat membantu upaya meminimalisir &#13;
sekaligus memanfaatkan limbah biji durian secara fungsional. Adapun bahan yang &#13;
digunakan dalam pembuatan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yaitu pipa berjenis &#13;
carbon steel dan memiliki kekuatan tekanan sebesar 16-18 bar. Tujuan dari &#13;
dilakukannya penelitian ini adalah untuk merancang tabung apar tepung biji durian dan &#13;
membuat tabung apar tepung biji durian. Hasil dari penelitian ini meliputi dengan &#13;
tekanan 16 bar dan 18 bar memiliki masing masing hasil tegangan sebesar 24 mpa dan &#13;
27 mpa dan dengan ini apar masih dalam kondisi aman dan bisa digunakan. &#13;
Berdasarkan kesimpulan yang ada yaitu; Hasil desain rancangan yang dibuat atau &#13;
digambar menggunakan Software Solidwork dan Tabugn apar dibuat dengan &#13;
menggunakan bahan pipa berjenis carbon steel ketebalan 6 mm, dengan ukuran tinggi &#13;
tabung 550 mm, diameter tabung 150 mm, panjang selang 4 cm, diameter selang 1,5 &#13;
cm diameter nozzle 2,5 cm indicator 18 bar, dan panjang tuas/handle 12 cm.
</summary>
<dc:date>2025-03-18T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PEMBUATAN DAPUR PELEBUR ALUMINIUM  MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR OLI BEKAS</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29581" rel="alternate"/>
<author>
<name>M SUKMA, BUDI HARTO</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29581</id>
<updated>2025-10-30T04:47:56Z</updated>
<published>2025-09-11T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PEMBUATAN DAPUR PELEBUR ALUMINIUM  MENGGUNAKAN BAHAN BAKAR OLI BEKAS
M SUKMA, BUDI HARTO
Peleburan adalah pembuatan produk dengan cara mencairkan logam dalam tungku &#13;
kemudian menuangkannya kedalam cetakan dan membiarkannya membeku. &#13;
Teknik pengecoran sudah banyak digunakan dalam dunia indutri secara luas &#13;
terutama untuk logam non ferrous. Bagian terpenting dari pengecoran adalah &#13;
tungku, dimana logam tersebut dipanaskan dan dicairkan. Pembangkitan energi &#13;
panas pada tungku sangat tergantung dari sumber energi, konstruksi dan material &#13;
yang akan dicairkan. Pembuatan rangka dudukan bahan bakar dibuat dengan &#13;
panjang 300 mm, lebar 210 mm, tinggi 650 mm. Pembuatan pipa burner dibuat &#13;
dibuat dengan pipa 2 inch dengan panjang pipa untuk mengalirkan udara 1220 &#13;
mm dan panjang pipa untuk saluran oli 1140 mm. Pembuatan dapur peleburan &#13;
alumunium dibuat dengan tinggi 450 mm, lebar 370 mm dengan ketebalan &#13;
dinding 80 mm lebar ruang bakar 220 mm. Pembuatan tutup bagian atas dibuat &#13;
dengan ukuran lebar 380 mm dan lubang udara yang ada di tengahnya &#13;
berdiameter 70 mm. Pembuatan cawan lebur dibuat dengan tinggi 150 mm, lebar &#13;
135 mm dengan ketebalan 3 mm. Dari hasil penelitian dapur peleburan aluminium &#13;
suhu tertinggi yang di ukur menggunakan thermogun infrared adalah pada &#13;
temperatur 726,7°C, dan alumnium melebur pada waktu 30 menit serta &#13;
menghabiskan bahan bakar sebesar 1,8 ml. Suhu terendah terendah menunjukkan &#13;
pada temperatur 375,3°C pada waktu 5 menit, dan suhu tertinggi yaitu 726,7°C &#13;
pada waktu 30 menit.
</summary>
<dc:date>2025-09-11T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
