<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Faculty of Medicine</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/13" rel="alternate"/>
<subtitle>Fakultas Kedokteran</subtitle>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/13</id>
<updated>2026-04-12T12:21:25Z</updated>
<dc:date>2026-04-12T12:21:25Z</dc:date>
<entry>
<title>UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN BIDARA (Ziziphus mauritiana) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus PADA PENGGUNAAN GIGI TIRUAN</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30296" rel="alternate"/>
<author>
<name>ZAHRA, ALMIRA</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30296</id>
<updated>2026-04-08T04:07:38Z</updated>
<published>2026-03-31T00:00:00Z</published>
<summary type="text">UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN BIDARA (Ziziphus mauritiana) TERHADAP PERTUMBUHAN Staphylococcus aureus PADA PENGGUNAAN GIGI TIRUAN
ZAHRA, ALMIRA
Pendahuluan: Permukaan gigi tiruan yang digunakan dalam jangka waktu lama berisiko &#13;
mengalami kolonisasi bakteri, khususnya bila kebersihannya kurang terjaga. Selain itu, &#13;
meningkatnya resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri berbasis &#13;
bahan alam, salah satunya daun bidara (Ziziphus mauritiana) yang diketahui mengandung &#13;
senyawa bioaktif dengan potensi antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis &#13;
hubungan tingkat kebersihan gigi tiruan dengan pertumbuhan Staphylococcus aureus&#13;
serta menguji daya hambat ekstrak daun bidara terhadap pertumbuhan bakteri tersebut.&#13;
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post-test only &#13;
control group. Hasil: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat kebersihan gigi tiruan &#13;
dan pertumbuhan Staphylococcus aureus (p = 0,005). Uji aktivitas antibakteri &#13;
menunjukkan bahwa ekstrak daun bidara memiliki daya hambat terhadap Staphylococcus &#13;
aureus pada seluruh konsentrasi, dengan zona hambat terbesar pada konsentrasi 70%. &#13;
Perbedaan diameter zona hambat antar konsentrasi bersifat signifikan secara statistik (p &lt; &#13;
0,05). Kesimpulan: Kebersihan gigi tiruan berperan penting dalam mencegah &#13;
pertumbuhan Staphylococcus aureus, dan ekstrak daun bidara (Ziziphus mauritiana) &#13;
berpotensi sebagai agen antibakteri alternatif terhadap bakteri tersebut.
</summary>
<dc:date>2026-03-31T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGRUHI TINGKAT  KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI  UPT PUSKESMAS SUKARAMAI</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30281" rel="alternate"/>
<author>
<name>AVISENA, MUHAMMAD</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30281</id>
<updated>2026-03-12T03:52:01Z</updated>
<published>2025-08-30T00:00:00Z</published>
<summary type="text">FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGRUHI TINGKAT  KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI  UPT PUSKESMAS SUKARAMAI
AVISENA, MUHAMMAD
Pendahuluan: Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh &#13;
Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru. Penularannya terjadi melalui &#13;
udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara sehingga bakteri dapat terhirup &#13;
oleh orang lain. Gejala umum TB paru meliputi batuk kronis, dahak bercampur darah, demam, &#13;
penurunan berat badan, dan keringat malam. TB paru merupakan salah satu masalah kesehatan &#13;
utama di dunia, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua setelah India sebagai &#13;
negara dengan beban TB tertinggi. Terapi TB paru membutuhkan pengobatan jangka panjang &#13;
dengan regimen obat anti-TB (OAT) selama 6–9 bulan. Keberhasilan pengobatan sangat &#13;
dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur. Namun, berbagai &#13;
faktor dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien, baik dari sisi individu, keluarga, maupun &#13;
pelayanan kesehatan. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan &#13;
pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada pasien TB paru dengan tujuan &#13;
menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat. Sampel &#13;
penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria pasien TB paru yang &#13;
sedang menjalani pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Variabel yang diteliti meliputi &#13;
pengetahuan pasien, dukungan keluarga, efek samping obat, dan peran fasilitas kesehatan. &#13;
Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara faktor faktor tersebut dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat. Hasil: Berdasarkan hasil &#13;
penelitian, faktor pengetahuan pasien tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap &#13;
kepatuhan minum obat. Dukungan keluarga terbukti memiliki hubungan signifikan dengan &#13;
kepatuhan pasien. Efek samping obat juga terbukti menjadi faktor yang paling berpengaruh &#13;
terhadap kepatuhan minum obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, peran fasilitas &#13;
kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien. Pasien yang &#13;
tidak mengalami efek samping serius cenderung lebih patuh dalam mengonsumsi obat, &#13;
sedangkan pasien yang mendapatkan dukungan keluarga lebih mampu menjaga rutinitas &#13;
pengobatan secara konsisten. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor &#13;
yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru adalah efek &#13;
samping obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, pengetahuan pasien dan peran &#13;
fasilitas kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepatuhan. Temuan ini &#13;
menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi tentang efek &#13;
samping obat serta strategi penanganannya, sehingga pasien tetap termotivasi untuk &#13;
melanjutkan terapi. Selain itu, dukungan keluarga juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu &#13;
faktor kunci dalam keberhasilan pengobatan TB paru.
</summary>
<dc:date>2025-08-30T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PERBEDAAN DERAJAT KEASAMAN KULIT WAJAH  ANTARA PENDERITA AKNE VULGARIS DENGAN  TANPA AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30280" rel="alternate"/>
<author>
<name>PRAHANDA, SURYA</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30280</id>
<updated>2026-03-12T03:49:07Z</updated>
<published>2025-08-10T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PERBEDAAN DERAJAT KEASAMAN KULIT WAJAH  ANTARA PENDERITA AKNE VULGARIS DENGAN  TANPA AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
PRAHANDA, SURYA
Latar Belakang : Akne vulgaris merupakan penyakit kulit inflamasi kronik pada &#13;
unit pilosebasea yang banyak dialami remaja dan dewasa muda. Penyakit ini tidak &#13;
hanya memengaruhi aspek dermatologis, tetapi juga berdampak pada kualitas &#13;
hidup pasien. Salah satu faktor yang berperan dalam patogenesis akne vulgaris &#13;
adalah perubahan derajat keasaman (pH) kulit wajah. Penelitian ini bertujuan &#13;
untuk mengetahui perbedaan rerata pH kulit wajah antara mahasiswa dengan akne &#13;
vulgaris dan tanpa akne vulgaris). Metode : Penelitian ini menggunakan desain &#13;
analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 20 &#13;
mahasiswa dengan akne vulgaris dan 20 mahasiswa tanpa akne vulgaris. Data pH &#13;
kulit wajah diperoleh melalui pemeriksaan langsung dan dianalisis menggunakan &#13;
uji Independent Sample T-test.. Hasil : Rerata pH kulit wajah pada kelompok &#13;
penderita akne vulgaris adalah 5,08 ± 0,30, sedangkan pada kelompok tanpa akne &#13;
vulgaris adalah 4,44 ± 0,14. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan &#13;
bermakna rerata pH kulit wajah antara kedua kelompok (p = 0,000). &#13;
Kesimpulan : Terdapat perbedaan signifikan derajat keasaman kulit wajah antara &#13;
mahasiswa penderita akne vulgaris dan tanpa akne vulgaris, di mana kelompok &#13;
akne memiliki pH lebih tinggi. Peningkatan pH kulit wajah dapat berperan &#13;
sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan akne vulgaris.
</summary>
<dc:date>2025-08-10T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KAFEIN PADA  KOPI TERHADAP GEJALA GERD DI KALANGAN  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30279" rel="alternate"/>
<author>
<name>Satyawan, Lia Andini</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30279</id>
<updated>2026-03-12T03:46:16Z</updated>
<published>2025-09-13T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KAFEIN PADA  KOPI TERHADAP GEJALA GERD DI KALANGAN  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
Satyawan, Lia Andini
Latar Belakang : Gatroesophageal Reflux Disease (GERD) didefinisikan sebagai &#13;
gangguan yang dimana isi lambung berulang kali naik ke esog=Fagus yang &#13;
menyebabkan gejala mengganggu. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) &#13;
merupakan penyakit gastrointestinal yang umum di seluruh dunia yang dipicu &#13;
oleh gaya hidup seseorang terutama konsumsi kafein. Tujuan : Untuk mengetahui &#13;
hubungan antara konsumsi kafein pada kopi terhadap gejala GERD di kalangan &#13;
mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. &#13;
Metode : Penelitian inni merupakan deskriptif analitik dengan desain oenelitian &#13;
cross sectional yang berarti objek penelitian akan diobservasi satu kali saja dan &#13;
pengukuran variabel akan dilakukan pada saaat pemeriksaan. Hasil Penelitian : &#13;
Hasil analisis bivariat antara konsumsi kopi dengan gejala GERD yaitu p = 0.001&#13;
(p &lt; 0.05). Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi &#13;
kafein pada kopi terhadap gejala GERD di kalangan mahasiswa/i Fakultas &#13;
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
</summary>
<dc:date>2025-09-13T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
