<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Faculty of Law</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/11" rel="alternate"/>
<subtitle>Fakultas Hukum</subtitle>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/11</id>
<updated>2026-04-05T07:22:09Z</updated>
<dc:date>2026-04-05T07:22:09Z</dc:date>
<entry>
<title>EFEKTIVITAS PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN  KLAIM ASURANSI JIWA MELALUI BADAN PENYELESAIAN   SENGKETA KONSUMEN (BPSK)</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30289" rel="alternate"/>
<author>
<name>FARADIBA, AULIA RAHMAH</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30289</id>
<updated>2026-03-30T08:11:39Z</updated>
<published>2026-02-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">EFEKTIVITAS PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN  KLAIM ASURANSI JIWA MELALUI BADAN PENYELESAIAN   SENGKETA KONSUMEN (BPSK)
FARADIBA, AULIA RAHMAH
Efektivitas prosedur penyelesaian sengketa klaim asuransi jiwa melalui &#13;
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (selanjutnya disingkat BPSK) merupakan &#13;
aspek penting dalam upaya perlindungan hukum terhadap konsumen jasa asuransi. &#13;
Sengketa klaim asuransi jiwa sering muncul akibat penolakan klaim oleh &#13;
perusahaan asuransi, perbedaan penafsiran terhadap isi polis, serta wanprestasi &#13;
dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Penelitian ini, BPSK berperan sebagai &#13;
lembaga non-litigasi yang memberikan alternatif penyelesaian sengketa yang lebih &#13;
cepat, sederhana, dan biaya ringan dibandingkan jalur pengadilan namun, &#13;
efektivitas pelaksanaan prosedur penyelesaian sengketa melalui BPSK masih &#13;
menjadi persoalan, karena adanya kendala sumber daya atau kurangnya &#13;
pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan kewenangan BPSK, keterbatasan &#13;
sumber daya manusia yang kompeten di bidang asuransi, tumpang tindih &#13;
kewenangan dengan lembaga lain seperti OJK dan pengadilan, serta lemahnya &#13;
pelaksanaan putusan BPSK di lapangan. &#13;
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian &#13;
hukum normatif empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan &#13;
sosiologi hukum. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan pengumpulan &#13;
data melalui studi kepustakaan terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, &#13;
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014, serta peraturan pelaksana lainnya dan &#13;
didukung oleh studi lapangan melalui wawancara. Analisis penelitian difokuskan &#13;
pada penilaian kesesuaian antara ketentuan hukum yang berlaku dengan praktik &#13;
penyelesaian sengketa klaim asuransi jiwa melalui Badan Penyelesaian Sengketa &#13;
Konsumen dalam menjamin perlindungan hukum yang efektif bagi konsumen. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPSK memiliki peran strategis dalam &#13;
menyelesaikan sengketa klaim asuransi jiwa, namun efektivitasnya belum optimal. &#13;
Kendala utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten di &#13;
bidang asuransi, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan &#13;
kewenangan BPSK, tumpang tindih kewenangan dengan lembaga lain, serta &#13;
lemahnya pelaksanaan putusan BPSK. Upaya peningkatan efektivitas penyelesaian &#13;
sengketa memerlukan penguatan kelembagaan BPSK, perbaikan koordinasi antar &#13;
lembaga, peningkatan kepatuhan perusahaan asuransi, serta peningkatan literasi &#13;
konsumen agar perlindungan hukum dapat terwujud secara lebih optimal.
</summary>
<dc:date>2026-02-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>IMPLEMENTASI PEMBAGIAN HARTA PUSAKA TINGGI  KEPADA ANAK LAKI-LAKI PEWARIS STUDI DI DESA  SUNGAI JARIANG BUKITTINGGI</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30222" rel="alternate"/>
<author>
<name>Bunga, Mirza Humaira</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30222</id>
<updated>2026-03-06T04:07:40Z</updated>
<published>2026-02-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">IMPLEMENTASI PEMBAGIAN HARTA PUSAKA TINGGI  KEPADA ANAK LAKI-LAKI PEWARIS STUDI DI DESA  SUNGAI JARIANG BUKITTINGGI
Bunga, Mirza Humaira
Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal yang &#13;
menempatkan pusaka tinggi sebagai harta warisan kolektif dalam garis ibu. Namun, &#13;
perkembangan sosial memunculkan perubahan dalam praktik pewarisan, termasuk &#13;
pemberian pusaka tinggi kepada anak laki-laki, seperti terlihat di Desa Sungai &#13;
Jariang, Bukittinggi. Pergeseran ini menimbulkan ketegangan antara norma adat, &#13;
prinsip faraidh, serta kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan &#13;
menganalisis keberlakuan hukum pusaka tinggi, memeriksa praktik pembagiannya &#13;
kepada anak laki-laki, dan mengidentifikasi kendala yang muncul dalam &#13;
implementasinya. Kajian ini diharapkan memberikan pemahaman mengenai &#13;
dinamika pewarisan adat di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. &#13;
Penelitian ini memakai metode empiris dan deskriptif untuk mengkaji &#13;
praktik pembagian pusaka tinggi. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, &#13;
dan wawancara. Seluruh informasi dianalisis secara kualitatif guna menghasilkan &#13;
pemahaman faktual serta jawaban ilmiah terhadap rumusan masalah yang diteliti &#13;
dalam konteks sosial adat masyarakat setempat pada lokasi penelitian yang telah &#13;
ditentukan. &#13;
Kedudukan harta pusaka tinggi di Desa Sungai Jariang hingga kini tetap &#13;
diatur berdasarkan adat Minangkabau yang berlandaskan sistem kekerabatan &#13;
matrilineal, meskipun masyarakat telah mengalami dinamika sosial dan &#13;
bersinggungan dengan hukum modern. Pusaka tinggi dipahami sebagai simbol &#13;
identitas kaum dan penyangga keberlanjutan keluarga, sehingga pengelolaannya &#13;
tetap berada dalam kewenangan perempuan garis ibu dan mamak sebagai pemimpin &#13;
adat. Dalam praktiknya, anak laki-laki tidak memperoleh hak kepemilikan atas &#13;
pusaka tinggi, namun dalam kondisi tertentu dapat diberikan hak pemanfaatan &#13;
berdasarkan musyawarah kaum, terutama apabila yang bersangkutan berperan aktif &#13;
dalam menjaga atau mengelola harta tersebut. Adapun kendala pelaksanaannya &#13;
bersumber dari faktor internal berupa perbedaan pemahaman adat serta faktor &#13;
eksternal akibat pengaruh perubahan sosial, yang menuntut upaya peningkatan &#13;
pemahaman hukum Islam dan penyesuaian nilai adat secara selektif agar sistem &#13;
pewarisan tetap relevan tanpa menghilangkan prinsip dasar budaya Minangkabau.
</summary>
<dc:date>2026-02-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>PROSES PENYELESAIAN SENGKETA MEREK DI  INDONESIA PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG   MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30037" rel="alternate"/>
<author>
<name>IMAM, MAHDY</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30037</id>
<updated>2025-12-20T02:39:30Z</updated>
<published>2025-11-27T00:00:00Z</published>
<summary type="text">PROSES PENYELESAIAN SENGKETA MEREK DI  INDONESIA PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG   MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS
IMAM, MAHDY
Persaingan usaha yang semakin ketat dalam era perdagangan global telah &#13;
menempatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya merek, sebagai instrumen &#13;
penting dalam melindungi identitas dan reputasi produk. Pelanggaran terhadap hak merek &#13;
sering memunculkan sengketa hukum antara pelaku usaha, baik karena adanya peniruan, &#13;
pendaftaran dengan itikad tidak baik, maupun penggunaan merek terkenal tanpa izin. &#13;
Dalam konteks Indonesia, perlindungan hukum terhadap merek diatur melalui Undang&#13;
Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang bertujuan &#13;
memberikan kepastian hukum bagi pemilik hak merek sekaligus menjaga persaingan &#13;
usaha yang sehat.  &#13;
Penelitian ini Menggunakan Metode normatif dengan pendekatan perundang&#13;
undangan (statute approach), konseptual (conceptual approach), dan pendekatan kasus &#13;
(case approach). Data yang digunakan merupakan bahan hukum primer berupa undang&#13;
undang dan putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder seperti literatur ilmiah, &#13;
jurnal hukum, dan komentar ahli. Analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif, dengan &#13;
menafsirkan norma hukum yang relevan dan mengaitkannya dengan praktik penyelesaian &#13;
sengketa merek di Indonesia. &#13;
Hasil penelitian pada Penulisan Skripsi ini menunjukkan bahwa sengketa merek di &#13;
Indonesia meliputi berbagai bentuk, antara lain sengketa pendaftaran merek, persamaan &#13;
pada pokoknya atau keseluruhannya, penggunaan merek terkenal tanpa izin, pendaftaran &#13;
dengan itikad tidak baik, serta sengketa antara merek dan indikasi geografis. Penyelesaian &#13;
secara litigasi melalui Pengadilan Niaga memberikan kepastian hukum, namun seringkali &#13;
memakan waktu dan biaya yang tinggi. Sementara itu, penyelesaian secara non-litigasi &#13;
seperti mediasi, arbitrase, dan negosiasi dinilai lebih efisien dan berpotensi menjaga &#13;
hubungan baik antara para pihak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas &#13;
penyelesaian sengketa merek di Indonesia sangat bergantung pada konsistensi penegakan &#13;
hukum, peningkatan profesionalitas aparat, serta kesadaran masyarakat terhadap &#13;
pentingnya perlindungan merek sebagai aset ekonomi dan hukum.
</summary>
<dc:date>2025-11-27T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>KAJIAN HUKUM TATA NEGARA DALAM  PENGANGKATAN MENTERI NEGARA MENURUT  SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL   DI INDONESIA</title>
<link href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30029" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nasution, Ikhsanul Rizki</name>
</author>
<id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30029</id>
<updated>2025-11-25T07:28:28Z</updated>
<published>2025-09-04T00:00:00Z</published>
<summary type="text">KAJIAN HUKUM TATA NEGARA DALAM  PENGANGKATAN MENTERI NEGARA MENURUT  SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL   DI INDONESIA
Nasution, Ikhsanul Rizki
Berdasarkan ketatanegaraan Indonesia, pada bentuk pemerintahan berlaku sistem &#13;
presidensil. Artinya Presiden selaku pejabat eksekutif adalah pemegang kekuasaan &#13;
tertinggi sebagai kepala negara dan juga kepala pemerintahan untuk menjalankan &#13;
amanah dan pengembanan tugas-tugas negara dan pemerintahan berdasarkan &#13;
Pancasila dan UUD NRI 1945. Seperti pada pengangkatan Menteri Negara dalam &#13;
struktur kabinet pemerintahan. Para Menteri dipilih dan diangkat Presiden &#13;
berdasarkan kewenangan dan hak prerogatifnya untuk membantu berbagai tugas &#13;
Presiden dan kinerja pemerintahannya. Namun pada fenomenanya, keterpilihan dan &#13;
keputusan Presiden dalam pengangkatan seorang Menteri seringkali dipengaruhi &#13;
oleh unsur politis lainnya, seperti permintaan jatah Menteri dari partai pendukung &#13;
pemerintah. Dimana permintaan tersebut pada akhirnya berpotensi mempengaruhi &#13;
hak prerogatif Presiden untuk memilih para Menteri yang berkompeten pada bidang &#13;
tugasnya. Dimana hal itu terbukti dari banyaknya Menteri negara yang berperilaku &#13;
tidak baik, melakukan perbuatan melanggar hukum, seperti pada praktik korupsi &#13;
dan lainnya. &#13;
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, menggunakan &#13;
teknik analisis kualitatif yang kemudian dipaparkan dan dianalisa menggunakan &#13;
metode deskriptif analitis. Jenis pendekatan yang digunakan pada penulisan skripsi &#13;
ini adalah pendekatan kepustakaan (library research), yaitu dengan mempelajari &#13;
buku serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengangkatan menteri negara &#13;
yang merupakan hak prerogatif Presiden pada sistem pemerintahan presidensial di &#13;
Indonesia, tingkat  peluang  keterpilihan  pengangkatan  menteri  negara oleh &#13;
Presiden  atas  dasar  permintaan partai  politik  menurut  sistem  pemerintahan &#13;
presidensial, dan bagaimana kedudukan hukum menteri negara dalam pelaksanaan &#13;
tugas pasca pengangkatannya kepada Presiden. &#13;
Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa keterpilihan dan keputusan Presiden &#13;
dalam pengangkatan seorang Menteri seringkali dipengaruhi oleh unsur politis yang &#13;
sumbernya datang dari partai koalisi pendukung Presiden itu sendiri. Dimana partai &#13;
koalisi menyodorkan nama-nama calon Menteri dari partai mereka masing-masing &#13;
untuk dapat duduk di kabinet pemerintahan. Sehingga dengan keadaan ini &#13;
menyulitkan Presiden untuk memilih para Menteri yang memang kompeten dan &#13;
professional dibidangnya.
</summary>
<dc:date>2025-09-04T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
