Abstract:
Latar Belakang: Streptococcus pyogenes merupakan bakteri Gram-positif
patogen utama penyebab berbagai penyakit infeksi seperti faringitis, selulitis,
hingga komplikasi sistemik. Meningkatnya resistensi antibiotik mendorong
perlunya eksplorasi bahan alam antibakteri. Jahe merah (Zingiber officinale
var. rubrum) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid dan tanin yang
berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri
ekstrak jahe merah terhadap pertumbuhan Streptococcus pyogenes pada
konsentrasi 40%, 60%, 80%, dan 100% dibandingkan dengan Klindamisin dan
aquades. Metode: Penelitian eksperimental in vitro menggunakan metode
difusi cakram (Kirby-Bauer) pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dengan
6 kelompok perlakuan dan 4 kali pengulangan (n=24). Analisis statistik
menggunakan uji Shapiro-Wilk, Levene's Test, Kruskal-Wallis, dan uji lanjut
Mann-Whitney. Hasil: Seluruh konsentrasi ekstrak jahe merah (40%, 60%,
80%, dan 100%) membentuk zona hambat dengan rata-rata diameter berturut turut 10.675 mm, 10.9 mm, 11.175 mm, 11.425 mm. Klindamisin
menghasilkan rata-rata zona hambat 22,00 mm, sedangkan aquades 0,00 mm.
Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan antar kelompok (p =
0,005). Uji Mann-Whitney menunjukkan seluruh kelompok ekstrak berbeda
signifikan terhadap kontrol positif dan kontrol negatif (p < 0,05), namun tidak
terdapat perbedaan signifikan antar konsentrasi ekstrak (p > 0,05).
Kesimpulan: Ekstrak jahe merah efektif menghambat pertumbuhan bakteri
Streptococcus pyogenes, meskipun daya hambatnya masih lebih rendah
dibandingkan Klindamisin.