Please use this identifier to cite or link to this item: http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30253
Full metadata record
DC FieldValueLanguage
dc.contributor.authorHARAHAP, RIZKI AMRI-
dc.date.accessioned2026-03-11T03:50:01Z-
dc.date.available2026-03-11T03:50:01Z-
dc.date.issued2026-02-12-
dc.identifier.urihttp://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30253-
dc.description.abstractPendahuluan: Sifilis merupakan infeksi menular seksual kronis yang disebabkan oleh Treponema pallidum dan hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada kelompok usia produktif. Penyakit ini berkembang melalui beberapa stadium klinis, yaitu primer, sekunder, laten, dan tersier. Gejala awal yang sering tidak nyeri menyebabkan banyak pasien tidak menyadari infeksi sehingga datang berobat pada stadium lanjut. Keterlambatan diagnosis tidak hanya dipengaruhi faktor klinis, tetapi juga faktor sosial demografis seperti jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan yang berperan dalam membentuk perilaku kesehatan, akses informasi, serta keputusan mencari pengobatan. Oleh karena itu, karakteristik sosial tersebut diduga berhubungan dengan stadium sifilis saat pertama kali terdiagnosis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan terhadap stadium sifilis pada pasien di RSUD Drs. H. Amri Tambunan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh dari rekam medis pasien sifilis periode Januari 2021–November 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah 30 responden. Analisis dilakukan secara univariat untuk melihat distribusi karakteristik responden dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antarvariabel. Hasil: Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki dan berada pada kelompok usia produktif. Tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA (63,3%) dan jenis pekerjaan didominasi mahasiswa (30,0%). Stadium sifilis yang paling sering ditemukan adalah stadium sekunder (43,3%). Uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis pekerjaan dengan stadium sifilis (p=0,388) maupun antara tingkat pendidikan dengan stadium sifilis (p=0,255). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan dengan stadium sifilis. Faktor perilaku, keterlambatan deteksi, serta rendahnya kesadaran skrining kemungkinan lebih berperan dalam menentukan stadium saat diagnosis. Diperlukan peningkatan edukasi kesehatan dan deteksi dini untuk mencegah progresivitas penyakit.en_US
dc.subjectsifilisen_US
dc.subjectstadium sifilisen_US
dc.subjectpekerjaanen_US
dc.subjectpendidikanen_US
dc.subjectinfeksi menular seksualen_US
dc.titleHUBUNGAN ANTARA JENIS PEKERJAAN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP STADIUM SIFILIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DRS. H. AMRI TAMBUNAN PADA TAHUN 2021- 2025.en_US
dc.title.alternativeRIZKI AMRI HARAHAPen_US
dc.typeThesisen_US
Appears in Collections:Medical science

Files in This Item:
File Description SizeFormat 
RIZKI AMRI HARAHAP.pdf3.09 MBAdobe PDFView/Open


Items in DSpace are protected by copyright, with all rights reserved, unless otherwise indicated.