<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection: Magister Ilmu Hukum</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/152</link>
    <description>Magister Ilmu Hukum</description>
    <pubDate>Tue, 07 Apr 2026 11:22:12 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-07T11:22:12Z</dc:date>
    <item>
      <title>Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Ekonomi  Berdasarkan Nilai Kerugian Negara Ditinjau Dari Konsepsi  Economic Analysis of Law</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30053</link>
      <description>Title: Pertanggungjawaban Pidana Dalam Tindak Pidana Ekonomi  Berdasarkan Nilai Kerugian Negara Ditinjau Dari Konsepsi  Economic Analysis of Law
Authors: Ansor Dwiky. S, Abdu Fadli
Abstract: Tesis ini membahas mengenai Pertanggungjawaban Pidana dalam Tindak &#xD;
Pidana Ekonomi Berdasarkan Nilai Kerugian Negara Ditinjau Dari Konsepsi &#xD;
Economic Analysis of Law Latar belakang penelitian ini berangkat dari lemahnya &#xD;
sistem pemidanaan di Indonesia yang masih didominasi paradigma retributif, sehingga &#xD;
kurang memperhatikan aspek pemulihan kerugian negara akibat tindak pidana &#xD;
ekonomi, khususnya tindak pidana korupsi. &#xD;
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan &#xD;
konseptual dan perbandingan hukum. Analisis dilakukan melalui kajian peraturan &#xD;
perundang-undangan, doktrin hukum, dan putusan pengadilan yang relevan, dengan &#xD;
mengacu pada teori Economic Analysis of Law, teori pertanggung jawaban pidana, dan &#xD;
teori restitusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemidanaan ekonomi berbasis &#xD;
kerugian negara harus diarahkan tidak hanya pada penghukuman pelaku, tetapi juga &#xD;
pada pemulihan kerugian negara melalui mekanisme restitusi, perampasan aset, dan &#xD;
denda proporsional. &#xD;
Penelitian ini menyimpulkan bahwa integrasi pendekatan ekonomi dalam &#xD;
formulasi pemidanaan akan meningkatkan efisiensi hukum, mengurangi disparitas &#xD;
putusan, dan memperkuat efek jera. Oleh sebab itu, diperlukan pembentukan pedoman &#xD;
pemidanaan berbasis nilai kerugian, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum di &#xD;
bidang analisis ekonomi dan audit forensik, serta penguatan kolaborasi multidisipliner. &#xD;
Dengan demikian, pemidanaan ekonomi dapat mewujudkan tujuan hukum secara &#xD;
komprehensif, yaitu kepastian, keadilan, dan kemanfaatan.</description>
      <pubDate>Thu, 11 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30053</guid>
      <dc:date>2025-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>KEDUDUKAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL BADAN POM DALAM  PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA KESEHATAN (STUDI KASUS  PEREDARAN OBAT TRADISIONAL ILEGAL DI MEDAN)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30046</link>
      <description>Title: KEDUDUKAN PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL BADAN POM DALAM  PENEGAKAN HUKUM TINDAK PIDANA KESEHATAN (STUDI KASUS  PEREDARAN OBAT TRADISIONAL ILEGAL DI MEDAN)
Authors: ANANDA, DIFA
Abstract: Tindak pidana di bidang kesehatan, khususnya terkait peredaran obat tradisional ilegal, &#xD;
merupakan bentuk kejahatan yang mengancam keselamatan masyarakat dan menimbulkan &#xD;
kerugian ekonomi. Modus operandi pelaku semakin beragam, termasuk penyamaran &#xD;
produk dalam bentuk kopi herbal dan jamu tradisional yang ternyata mengandung Bahan &#xD;
Kimia Obat (BKO) berbahaya. Kondisi ini menuntut adanya penegakan hukum yang efektif &#xD;
dan aparatur yang memiliki kompetensi teknis di bidang kesehatan. Penyidik Pegawai &#xD;
Negeri Sipil (PPNS) Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) memiliki peran &#xD;
strategis sebagai penyidik lex specialis dengan kewenangan melakukan penyidikan tindak &#xD;
pidana kesehatan di bawah koordinasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Penelitian &#xD;
ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan dan mekanisme PPNS Badan POM dalam &#xD;
menangani tindak pidana kesehatan, mengidentifikasi faktor-faktor penghambat di &#xD;
lapangan, serta merumuskan solusi yang dapat ditempuh guna meningkatkan efektivitas &#xD;
penegakan hukum.  &#xD;
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan pendekatan &#xD;
yuridis empiris, yaitu mengkaji ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku &#xD;
sekaligus menghubungkannya dengan praktik implementasi di lapangan. Data penelitian &#xD;
diperoleh dari data primer berupa wawancara dengan PPNS BBPOM Medan, aparat &#xD;
kepolisian, dan pihak terkait, serta data sekunder berupa peraturan perundang-undangan, &#xD;
literatur, dan laporan resmi BBPOM. Data dianalisis secara kualitatif untuk &#xD;
menggambarkan efektivitas regulasi serta realitas penerapannya di masyarakat.  &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa PPNS Badan POM memiliki legitimasi hukum yang &#xD;
kuat melalui KUHAP, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981, dan Undang-Undang Nomor &#xD;
17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang menegaskan kedudukannya sebagai penyidik &#xD;
khusus. Mekanisme penyidikan yang dijalankan meliputi pengawasan lapangan, &#xD;
penyelidikan, pengambilan sampel, uji laboratorium, hingga koordinasi dengan Polri, &#xD;
Kejaksaan, dan Pengadilan. Akan tetapi, implementasi di lapangan masih menghadapi &#xD;
hambatan, antara lain keterbatasan sumber daya manusia dan sarana, birokrasi yang &#xD;
panjang, lemahnya koordinasi antarinstansi, serta rendahnya kesadaran hukum masyarakat. &#xD;
Salah satu kasus konkret adalah penindakan BBPOM Medan pada tahun 2025 terhadap &#xD;
peredaran ribuan sachet kopi herbal ilegal dengan nilai ekonomi lebih dari Rp43 juta. &#xD;
Adapun solusi yang ditempuh mencakup peningkatan kapasitas PPNS, pemanfaatan &#xD;
teknologi digital dalam pengawasan, harmonisasi regulasi, serta penguatan koordinasi &#xD;
lintas sektoral dan partisipasi masyarakat. Dengan demikian, meskipun PPNS Badan POM &#xD;
telah memiliki dasar hukum yang jelas dan kedudukan strategis dalam sistem peradilan &#xD;
pidana terpadu, efektivitas perannya masih perlu ditingkatkan melalui modernisasi &#xD;
kelembagaan, penyempurnaan regulasi, dan penguatan sinergi antarpenegak hukum agar &#xD;
mampu memberikan perlindungan hukum maksimal bagi masyarakat.</description>
      <pubDate>Thu, 11 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30046</guid>
      <dc:date>2025-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>ANALISIS YURIDIS UNSUR SENGAJA DAN  DIRENCANAKAN DALAM TINDAK   PIDANA YANG MENGAKIBATKAN   ORANG MATI  (Studi Putusan Nomor 182/Pid.B/2024/Pn.Kbj)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30045</link>
      <description>Title: ANALISIS YURIDIS UNSUR SENGAJA DAN  DIRENCANAKAN DALAM TINDAK   PIDANA YANG MENGAKIBATKAN   ORANG MATI  (Studi Putusan Nomor 182/Pid.B/2024/Pn.Kbj)
Authors: SELAMAT MARBUN, GUS IRWAN
Abstract: Tindak pidana pembunuhan berencana merupakan salah satu bentuk &#xD;
kejahatan serius yang diatur dalam Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum &#xD;
Pidana (KUHP). Permasalahan utama dalam penerapan pasal ini terletak pada &#xD;
pembuktian unsur ―dengan sengaja dan direncanakan‖, terutama dalam kasus &#xD;
pembunuhan yang dilakukan secara tidak langsung, seperti melalui tindak pidana &#xD;
pembakaran. Penelitian ini mengkaji Putusan Nomor 182/Pid.B/2024/PN.Kbj &#xD;
yang menjerat pelaku pembakaran rumah wartawan di Kabupaten Karo hingga &#xD;
mengakibatkan empat orang meninggal dunia. Kasus ini menunjukkan &#xD;
kompleksitas dalam membuktikan niat dan perencanaan pelaku, serta bagaimana &#xD;
hakim menilai bukti-bukti untuk menentukan pertanggungjawaban pidana.  &#xD;
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan &#xD;
pendekatan undang-undang dan konseptual, disertai analisis putusan pengadilan. &#xD;
Data diperoleh melalui studi kepustakaan, peraturan perundang-undangan, &#xD;
literatur hukum, serta yurisprudensi yang relevan, kemudian dianalisis secara &#xD;
kualitatif dengan teori kepastian hukum, teori pembuktian, dan teori pemidanaan.  &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur kesengajaan dan perencanaan &#xD;
dalam kasus pembunuhan berencana melalui pembakaran dapat dibuktikan &#xD;
dengan melihat niat batin pelaku, alat dan cara yang digunakan, serta adanya &#xD;
tenggang waktu antara niat dan pelaksanaan. Pertimbangan hakim dalam Putusan &#xD;
Nomor 182/Pid.B/2024/PN.Kbj menegaskan bahwa tindakan terdakwa memenuhi &#xD;
unsur Pasal 340 KUHP, sehingga dijatuhi pidana berat berupa penjara seumur &#xD;
hidup dan 20 tahun bagi para terdakwa. Penelitian ini menegaskan bahwa &#xD;
pembuktian unsur kesengajaan dan perencanaan harus dilakukan secara cermat &#xD;
dengan memadukan teori hukum dan fakta persidangan, agar tercapai kepastian &#xD;
hukum, keadilan, dan perlindungan hak asasi manusia.</description>
      <pubDate>Thu, 11 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30045</guid>
      <dc:date>2025-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PERAN IMIGRASI DALAM PENCEGAHAN TINDAK  PIDANA PERDAGANGAN ORANG  (Studi Di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30044</link>
      <description>Title: PERAN IMIGRASI DALAM PENCEGAHAN TINDAK  PIDANA PERDAGANGAN ORANG  (Studi Di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan)
Authors: KARO KARO, RALO REJEKI
Abstract: Perdagangan orang merupakan salah satu bentuk extraordinary crime yang bersifat &#xD;
transnasional dan terorganisir, sehingga menuntut keterlibatan negara secara komprehensif &#xD;
dalam aspek pencegahan maupun penindakan. Indonesia sebagai negara sumber, transit, &#xD;
dan tujuan perdagangan orang menghadapi tantangan serius karena faktor geografis, &#xD;
ekonomi, serta lemahnya sistem pengawasan perbatasan. Dalam konteks ini, Imigrasi &#xD;
memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mengawasi lalu lintas orang lintas &#xD;
batas negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinkronisasi regulasi terkait peran &#xD;
Imigrasi dalam pencegahan tindak pidana perdagangan orang, menelaah implementasi &#xD;
peran Imigrasi di lapangan melalui data empiris, serta mengidentifikasi kendala dan solusi &#xD;
yang ditempuh oleh petugas keimigrasian. &#xD;
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris dengan &#xD;
pendekatan sosiolegal. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pejabat dan &#xD;
petugas Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Medan, sementara data sekunder bersumber &#xD;
dari peraturan perundang-undangan, literatur, dan dokumen resmi. Seluruh data dianalisis &#xD;
secara kualitatif untuk memberikan gambaran mendalam mengenai efektivitas regulasi &#xD;
serta praktik keimigrasian dalam pencegahan perdagangan orang. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, pengaturan hukum terkait &#xD;
peran Imigrasi dalam pencegahan tindak pidana perdagangan orang telah memiliki dasar &#xD;
yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang PTPPO, Undang&#xD;
Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, serta berbagai peraturan pelaksana &#xD;
yang diperkuat dengan ratifikasi Protokol Palermo 2000. Implementasi di lapangan &#xD;
dilakukan melalui pemeriksaan dokumen perjalanan, verifikasi biometrik, wawancara &#xD;
calon penumpang, serta koordinasi dengan instansi terkait. Akan tetapi, praktiknya masih &#xD;
menghadapi berbagai kendala, antara lain lemahnya koordinasi lintas sektor, keterbatasan &#xD;
sumber daya manusia, minimnya pemanfaatan teknologi deteksi dini, serta paradigma &#xD;
penanganan korban yang belum sepenuhnya berbasis perlindungan. Peran Imigrasi dalam &#xD;
pencegahan perdagangan orang sudah memiliki legitimasi hukum yang jelas namun belum &#xD;
optimal secara implementatif. Solusi yang diperlukan adalah harmonisasi regulasi, &#xD;
penguatan kapasitas kelembagaan dan teknologi pengawasan, peningkatan profesionalitas &#xD;
petugas, serta optimalisasi kerja sama antarinstansi maupun kerja sama internasional. &#xD;
Dengan demikian, Imigrasi dapat menjalankan perannya secara efektif sebagai benteng &#xD;
negara sekaligus pelindung warga dari praktik perdagangan orang.</description>
      <pubDate>Thu, 11 Dec 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30044</guid>
      <dc:date>2025-12-11T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

