<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
<channel>
<title>Faculty of Medicine</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/13</link>
<description>Fakultas Kedokteran</description>
<pubDate>Tue, 13 Oct 2026 12:41:40 GMT</pubDate>
<dc:date>2026-10-13T12:41:40Z</dc:date>
<item>
<title>PENGARUH TERAPI BEKAM KERING TERHADAP PERUBAHAN NYERI PADA PENDERITA DISPEPSIA WARGA BINAAN PERMASYARAKATAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MEDAN</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32265</link>
<description>PENGARUH TERAPI BEKAM KERING TERHADAP PERUBAHAN NYERI PADA PENDERITA DISPEPSIA WARGA BINAAN PERMASYARAKATAN DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 MEDAN
NASUTION, WIFA SABILA
Latar Belakang: Dispepsia merupakan keluhan gastrointestinal yang dapat disertai nyeri &#13;
atau rasa tidak nyaman pada daerah epigastrium. Kondisi lingkungan lembaga &#13;
pemasyarakatan, termasuk tekanan psikologis dan keterbatasan aktivitas, dapat &#13;
berkontribusi terhadap munculnya keluhan gastrointestinal pada warga binaan. Bekam &#13;
kering merupakan salah satu terapi nonfarmakologis yang berpotensi membantu &#13;
mengurangi nyeri melalui respons fisiologis yang ditimbulkan oleh tekanan negatif pada &#13;
permukaan kulit. Tujuan: Mengetahui pengaruh terapi bekam kering terhadap perubahan &#13;
intensitas nyeri pada penderita dispepsia warga binaan pemasyarakatan di Lembaga &#13;
Pemasyarakatan Kelas I Medan. Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain &#13;
pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Sebanyak 23 responden &#13;
dipilih melalui purposive sampling. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating &#13;
Scale (NRS) sebelum dan setelah pemberian terapi bekam kering. Data dianalisis &#13;
menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test karena hasil uji normalitas menunjukkan data &#13;
tidak berdistribusi normal. Hasil: Sebelum intervensi, rerata skor NRS adalah 6,13 ± 1,42 &#13;
dan menurun menjadi 4,00 ± 1,04 setelah intervensi, dengan selisih rerata sebesar 2,13 &#13;
poin. Sebelum terapi, 10 responden (43,5%) mengalami nyeri sedang dan 13 responden &#13;
(56,5%) mengalami nyeri berat. Setelah terapi, 8 responden (34,8%) berada pada kategori &#13;
nyeri ringan, 15 responden (65,2%) mengalami nyeri sedang, dan tidak ditemukan &#13;
responden dengan nyeri berat. Hasil Wilcoxon Signed-Rank Test menunjukkan nilai Z = &#13;
−4,252 dengan p = 0,000 (p &lt; 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan intensitas nyeri &#13;
yang bermakna antara sebelum dan setelah intervensi. Kesimpulan: Terapi bekam kering &#13;
berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri pada penderita dispepsia warga binaan &#13;
pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Medan.
</description>
<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/handle/123456789/32265</guid>
<dc:date>2026-06-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>GAMBARAN DENSITAS NUMERIK GLOMERULUS TIKUS  WISTAR PADA PEMBERIAN EKSTRAK AMPAS TEBU,  KURKUMA, YANG DI INDUKSI DIET TINGGI LEMAK</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32264</link>
<description>GAMBARAN DENSITAS NUMERIK GLOMERULUS TIKUS  WISTAR PADA PEMBERIAN EKSTRAK AMPAS TEBU,  KURKUMA, YANG DI INDUKSI DIET TINGGI LEMAK
MANULLANG, SAFRIDA OKTAVIA
Pendahuluan: Diet tinggi lemak diketahui dapat menyebabkan gangguan &#13;
metabolik yang berdampak pada berbagai organ, termasuk ginjal. Paparan diet &#13;
tinggi lemak dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan stres oksidatif dan &#13;
inflamasi sehingga memicu perubahan struktur glomerulus ginjal. Berbagai bahan &#13;
alam, seperti kurkuma dan ampas tebu, diketahui mengandung senyawa bioaktif &#13;
yang berpotensi memberikan efek nefroprotektif. Namun, pengaruh pemberian &#13;
ekstrak ampas tebu dan kurkuma terhadap densitas numerik glomerulus masih &#13;
belum banyak diteliti, khususnya dengan pendekatan metode stereologi.&#13;
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan densitas numerik &#13;
glomerulus pada tikus Wistar yang diinduksi diet tinggi lemak setelah pemberian &#13;
ekstrak ampas tebu dan kurkuma. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian &#13;
deskriptif menggunakan bahan biologis tersimpan berupa ginjal tikus Wistar dari &#13;
penelitian sebelumnya. Sampel terdiri atas 10 ekor tikus Wistar yang dibagi ke &#13;
dalam lima kelompok, yaitu kelompok kontrol positif (diet tinggi lemak tanpa &#13;
terapi), kelompok kontrol negatif (diet standar), kelompok kurkuma dosis 500 &#13;
mg/kgBB, kelompok ekstrak ampas tebu dosis 500 mg/kgBB, dan kelompok&#13;
ekstrak ampas tebu dosis 750 mg/kgBB. Jaringan ginjal diproses menjadi preparat &#13;
histologi dan dianalisis menggunakan metode stereologi physical disector dengan &#13;
bantuan perangkat lunak ImageJ/FIJI. Data hasil penghitungan glomerulus &#13;
digunakan untuk menghitung densitas numerik glomerulus dan disajikan secara &#13;
deskriptif. Hasil: Rerata densitas numerik glomerulus tertinggi diperoleh pada &#13;
kelompok kurkuma dosis 500 mg/kgBB sebesar 1,035 × 10-3 mm³, diikuti &#13;
kelompok kontrol negatif sebesar 9,16 × 10-4 mm³, kelompok ekstrak ampas tebu &#13;
dosis 500 mg/kgBB sebesar 8,22 × 10-4 mm³, kelompok ekstrak ampas tebu dosis &#13;
750 mg/kgBB sebesar 7,98 × 10-4 mm³, dan kelompok kontrol positif sebesar 7,66 &#13;
× 10-4 mm³. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi rerata densitas numerik &#13;
glomerulus pada masing-masing kelompok perlakuan.Kesimpulan: Penelitian ini &#13;
memberikan gambaran bahwa densitas numerik glomerulus berbeda secara &#13;
deskriptif pada setiap kelompok perlakuan. Nilai rata-rata densitas numerik &#13;
glomerulus tertinggi ditemukan pada kelompok kurkuma dosis 500 mg/kgBB, &#13;
sedangkan nilai terendah terdapat pada kelompok kontrol positif (diet tinggi &#13;
lemak tanpa terapi). Karena penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif, &#13;
hasil yang diperoleh hanya menggambarkan distribusi densitas numerik &#13;
glomerulus pada masing-masing kelompok dan tidak digunakan untuk &#13;
menyimpulkan adanya perbedaan atau pengaruh antar kelompok.
</description>
<pubDate>Thu, 20 Aug 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/handle/123456789/32264</guid>
<dc:date>2026-08-20T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN KUALITAS TIDUR TERHADAP  MEMORI JANGKA PENDEK PADA MAHASISWA ANGKATAN 2022 FKIK UMSU</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32263</link>
<description>HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DAN KUALITAS TIDUR TERHADAP  MEMORI JANGKA PENDEK PADA MAHASISWA ANGKATAN 2022 FKIK UMSU
Nasution, Muhammad Salsabil Yasjudan Noor
Latar Belakang: Aktivitas fisik dan kualitas tidur merupakan faktor yang berperan &#13;
penting dalam fungsi kognitif, termasuk memori jangka pendek. Mahasiswa &#13;
kedokteran sering mengalami beban akademik yang tinggi sehingga berisiko &#13;
mengalami penurunan aktivitas fisik dan gangguan kualitas tidur yang dapat &#13;
memengaruhi kemampuan memori. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk &#13;
mengetahui hubungan aktivitas fisik dan kualitas tidur terhadap memori jangka pendek &#13;
pada mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah &#13;
Sumatera Utara.Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan &#13;
desain cross-sectional. Metode: Sampel penelitian berjumlah 86 mahasiswa yang &#13;
dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Aktivitas fisik diukur &#13;
menggunakan (IPAQ), kualitas tidur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index&#13;
(PSQI), dan memori jangka International Physical Activity Questionnaire pendek &#13;
menggunakan Digit Span Forward Test. Analisis data dilakukan secara univariat dan &#13;
bivariat menggunakan uji korelasi Spearman dengan tingkat kemaknaan p&lt;0,05. Hasil:&#13;
Mayoritas responden berusia 22 tahun (41,9%) dan berjenis kelamin perempuan &#13;
(70,9%). Sebagian besar responden memiliki aktivitas fisik sedang (47,7%), kualitas &#13;
tidur buruk (93,0%), dan memori jangka pendek kategori sedang (73,3%). Hasil uji &#13;
korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara &#13;
aktivitas fisik dengan memori jangka pendek (r=0,004; p=0,971) maupun antara &#13;
kualitas tidur dengan memori jangka pendek (r=0,098; p=0,371). Kesimpulan: Tidak &#13;
terdapat hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik maupun kualitas tidur dengan &#13;
memori jangka pendek pada mahasiswa angkatan 2022 Fakultas Kedokteran &#13;
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.
</description>
<pubDate>Tue, 28 Jul 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/handle/123456789/32263</guid>
<dc:date>2026-07-28T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item>
<title>GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN  DERMATITIS SEBOROIK BERDASARKAN  DERMATOLOGY LIFE QUALITY INDEX (DLQI) DI  POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. PIRNGADI  MEDAN PERIODE FEBRUARI-APRIL TAHUN 2026</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32262</link>
<description>GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN  DERMATITIS SEBOROIK BERDASARKAN  DERMATOLOGY LIFE QUALITY INDEX (DLQI) DI  POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. PIRNGADI  MEDAN PERIODE FEBRUARI-APRIL TAHUN 2026
DAULAY, UMAIROH HABIBA
Dermatitis seboroik yang juga disebut dengan eksema seboroik, adalah penyakit&#13;
yang sering terjadi yang ditandai oleh adanya sisik diatas dasar kulit kemerahan. &#13;
Kualitas hidup merupakan persoalan yang sangat penting dalam psikologi &#13;
kesehatan yang mencakup sebagian besar pengertian kesehatan masyarakat. &#13;
Desain penelitian menggunakan desain Cross Sectional Study (potong lintang). &#13;
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang mengalami dermatitis seboroik di&#13;
RSUD Dr. Pirngadi Medan. Data yang telah diolah dianalisis secara univariat dan &#13;
disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase disertai narasi &#13;
deskriptif. Hasil penelitian yang dilakukan pada 28 pasien dermatitis dermatitis &#13;
seboroik di RSUD Dr. Pirngadi Medan, diperoleh bahwa mayoritas pasien &#13;
berjenis kelamin laki-laki sebanyak 15 pasien (53,6%). Berdasarkan usia &#13;
kelompok yang paling dominan adalah usia 51-65 tahun sebanyak 11 pasien &#13;
(39,3%). Dari pendidikan, menunjukkan bahwa proporsi pasien dengan &#13;
pendidikan terakhir SMA dan sarjana adalah sama, yaitu sebanyak 14 pasien &#13;
(50,0%). Berdasarkan pekerjaan, mayoritas pasien termasuk dalam kategori &#13;
pekerjaan lainnya, yaitu sebanyak 21 pasien (75,0%) dengan pekerjaan lainnya &#13;
yang menunjukkan pekerjaan tidak disebutkan secara spesifik. Sebanyak 14 &#13;
pasien (50,0%) menyatakan bahwa dermatitis seboroik memberikan pengaruh &#13;
yang amat sangat berpengaruh terhadap aktivitas sehari-hari. Kesimpulan &#13;
penelitian ini menunjukkan bahwa pasien berjenis kelamin laki-laki dominan &#13;
merasakan amat sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Selain itu &#13;
kelompok usia 51-65 tahun, pasien dengan pendidikan terakhir SMA dan sarjana, &#13;
serta pasien dengan kategori pekerjaan lainnya juga dominan merasakan bahwa &#13;
dermatitis seboroik memberikan pengaruh amat sangat berpengaruh terhadap &#13;
kualitas hidup pasien dalam aktivitas sehari-harinya.
</description>
<pubDate>Fri, 12 Jun 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/handle/123456789/32262</guid>
<dc:date>2026-06-12T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</channel>
</rss>
