<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Community: Fakultas Hukum</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/11</link>
    <description>Fakultas Hukum</description>
    <pubDate>Fri, 24 Apr 2026 18:40:10 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-24T18:40:10Z</dc:date>
    <item>
      <title>ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEBIJAKAN  DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH DI  SUMATERA UTARA</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30507</link>
      <description>Title: ANALISIS YURIDIS TERHADAP KEBIJAKAN  DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH DI  SUMATERA UTARA
Authors: Nasution, Khairul Abdi
Abstract: Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah merupakan wujud &#xD;
pengakuan terhadap keragaman daerah dalam kerangka Negara &#xD;
Kesatuan Republik Indonesia. Penelitian ini menganalisis &#xD;
perkembangan regulasi dari UU No. 22 Tahun 1999 hingga UU No. &#xD;
23 Tahun 2014, efektivitas pembagian kewenangan antara pemerintah &#xD;
provinsi dan kabupaten/kota dan dampak kebijakan terhadap &#xD;
pembangunan daerah. &#xD;
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini &#xD;
menggunakan pendekatan yuridis normatif, menggunakan teknik &#xD;
analisis kualitatif yang kemudian dipaparkan dan dianalisa &#xD;
menggunakan metode deskriptif analitis. Sehingga dapat memberikan &#xD;
gambaran dan pemahaman dari penelitian terkait dengan dampak dan &#xD;
efektivitas kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Sumatera &#xD;
Utara &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi otonomi &#xD;
daerah di Sumatera Utara telah menciptakan dinamika pemerintahan &#xD;
yang kompleks. Di satu sisi, kebijakan ini berhasil mendorong &#xD;
pengembangan kawasan strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus &#xD;
Sei Mangkei dan Kawasan Strategis Nasional Danau Toba. Namun di &#xD;
sisi lain, muncul tantangan struktural berupa ketimpangan fiskal antar &#xD;
daerah, dimana 68% APBD kabupaten/kota masih bergantung pada &#xD;
transfer pusat, serta disparitas kapasitas kelembagaan pemerintah &#xD;
daerah. Penelitian ini juga mengungkap bahwa model pembagian &#xD;
kewenangan dalam UU No. 23 Tahun 2014 belum sepenuhnya efektif &#xD;
mengatasi tumpang tindih kewenangan antara provinsi dan &#xD;
kabupaten/kota.</description>
      <pubDate>Fri, 27 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30507</guid>
      <dc:date>2026-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>LEGAL LIABILITY FOR THE UNAUTHORIZED  WITHDRAWAL OF FUNDS BY PT PERMODALAN  NASIONAL MADANI (MEKAAR)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30506</link>
      <description>Title: LEGAL LIABILITY FOR THE UNAUTHORIZED  WITHDRAWAL OF FUNDS BY PT PERMODALAN  NASIONAL MADANI (MEKAAR)
Authors: Yamasya, Ressa
Abstract: The official consent stipulated in Article 1320 of the Indonesian &#xD;
Civil  Code  (KUHPerdata)  involves  an  agreement  between &#xD;
authorized parties and fulfills the legal requirements for a valid &#xD;
contract. This includes mutual consent between the parties, the &#xD;
legal capacity to bind themselves, a specific subject matter, and a &#xD;
lawful cause. The purpose of this study is to examine the civil law &#xD;
regulations governing employees of PT Permodalan Nasional &#xD;
Madani (Mekaar) in relation to the unauthorized withdrawal of &#xD;
customer funds, as well as to analyze the legal protection provided &#xD;
by the company to affected customers. &#xD;
This research concludes that there have been instances of &#xD;
misconduct by certain employees, such as forgery of signatures &#xD;
and manipulation of documents, to obtain funds without the &#xD;
customer’s explicit consent—actions that result in both legal and &#xD;
financial losses for customers. In the context of civil law, such &#xD;
actions may render the related agreements null and void and give &#xD;
rise to civil liability for both the employee and the company. &#xD;
The legal protection provided by the company includes internal &#xD;
supervision  mechanisms,  issuance  of  warnings,  mediation, &#xD;
compensation, and dispute resolution efforts through deliberation &#xD;
or court proceedings.</description>
      <pubDate>Mon, 06 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30506</guid>
      <dc:date>2026-04-06T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>ANALISIS YURIDIS PERJANJIAN PENGGUNAAN SEPEDA   MOTOR LISTRIK (VIAR Q1) ANTARA GRAB ELECTRIC   DAN MITRA GRABBIKE (STUDI DI KOTA MEDAN)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30505</link>
      <description>Title: ANALISIS YURIDIS PERJANJIAN PENGGUNAAN SEPEDA   MOTOR LISTRIK (VIAR Q1) ANTARA GRAB ELECTRIC   DAN MITRA GRABBIKE (STUDI DI KOTA MEDAN)
Authors: MUHAMMAD, FARIZ AKBAR
Abstract: Pengaruh dari globalisasi melahirkan inovasi dalam teknologi, salah &#xD;
satunya perkembangan transportasi online. Grab adalah sebuah perusahaan &#xD;
transportasi online menyediakan jasa transportasi online yang dikenal dengan &#xD;
GrabBike yang mana layanan tersebut menyewakan motor listrik (Viar Q1) &#xD;
untuk mitra GrabBike yang memerlukan perjanjian. Untuk menyewa motor &#xD;
listrik tersebut diperlukannya perjanjian. Grab menerapkan perjanjian baku &#xD;
sebagai dasar bentuk perjanjian kerjasama diantara perusahaan Grab dengan &#xD;
mitra GrabBike. Namun ketidakseimbangan yang ada pada perjanjian baku &#xD;
dalam perjanjian penggunaan menimbulkan perlindungan sepihak atas hak &#xD;
pihak yang menyewakan daripada pihak penyewa, sehingga lebih berpotensi &#xD;
kerugian yang ditanggung oleh pihak penyewa. &#xD;
Penelitian ini termasuk penelitian yuridis sosiologis dengan &#xD;
menerapkan teknik analisis kualitatif yang akan diuraikan beserta dianalisis &#xD;
memakai metode deskriptif. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini, &#xD;
yakni pendekatan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan &#xD;
kasus (case approach) menekankan pada pengkajian kesesuaian dasar-dasar &#xD;
hukum serta mengkaji putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap yang &#xD;
berkaitan dengan masalah hukum serta menggunakan pendekatan dengan &#xD;
sifat penggabungan antara pendekatan hukum (yuridis) dengan pendekatan &#xD;
terhadap masyarakat (sosiologis). &#xD;
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa bentuk hukum &#xD;
perjanjian sepeda motor listrik antara Grab Electric dan mitra GrabBike di &#xD;
Kota Medan berupa kontrak baku yang berbentuk elektronik, tanggung jawab &#xD;
hukum apabila terjadi wanprestasi yang dilakukan mitra GrabBike adalah &#xD;
penarikan sepeda motor listrik serta uang deposit yang hangus, dan &#xD;
perlindungan hukum terhadap mitra GraBike dalam perjanjian sepeda motor &#xD;
listrik, yakni mitra GrabBike dapat menuntut ganti rugi kepada pihak Grab &#xD;
Electric jika hak-haknya tidak dipenuhi dan walaupun menggunakan &#xD;
perjanjian baku Grab Electr.</description>
      <pubDate>Thu, 02 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30505</guid>
      <dc:date>2026-04-02T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>TINJAUAN YURIDIS TERHADAP MEKANISME  PENETAPAN PAILIT MENURUT UNDANG-UNDANG  NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN  PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30504</link>
      <description>Title: TINJAUAN YURIDIS TERHADAP MEKANISME  PENETAPAN PAILIT MENURUT UNDANG-UNDANG  NOMOR 37 TAHUN 2004 TENTANG KEPAILITAN DAN  PENUNDAAN KEWAJIBAN PEMBAYARAN UTANG
Authors: DARA, NURAINI
Abstract: Kepailitan merupakan instrumen hukum yang disediakan oleh negara untuk &#xD;
menyelesaikan permasalahan utang-piutang secara kolektif dan teratur ketika &#xD;
debitor tidak lagi mampu memenuhi kewajiban pembayaran utangnya kepada para &#xD;
kreditur. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan &#xD;
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (UU KPKPU) hadir sebagai dasar &#xD;
hukum utama yang mengatur mekanisme penetapan pailit, mulai dari pengajuan &#xD;
permohonan, pemeriksaan di Pengadilan Niaga, hingga penyelesaian dan &#xD;
pemberesan harta pailit. Namun dalam praktik, mekanisme penetapan pailit sering &#xD;
menimbulkan berbagai persoalan yuridis, khususnya terkait penerapan asas &#xD;
pembuktian sederhana, perlindungan hak debitor dan kreditur, serta kepastian &#xD;
hukum dalam proses kepailitan. &#xD;
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan &#xD;
sifat penelitian deskriptif, menggunakan pendekatan peraturan perundang- &#xD;
undangan (statute approach). Sumber data meliputi data kewahyuan yang &#xD;
bersumber dari Al-Qur'an (QS. Al-Baqarah: 280) dan Hadits Riwayat Bukhari- &#xD;
Muslim tentang larangan menunda pembayaran bagi yang mampu, bahan hukum &#xD;
primer berupa peraturan perundang-undangan, bahan hukum sekunder berupa buku &#xD;
dan jurnal ilmiah, serta bahan hukum tersier. Analisis data dilakukan secara &#xD;
kualitatif dengan metode penyimpulan deduktif, yakni menarik kesimpulan dari hal &#xD;
yang bersifat umum menuju hal yang bersifat khusus. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepailitan merupakan konsekuensi &#xD;
hukum yang timbul karena terpenuhinya syarat yuridis sebagaimana diatur dalam &#xD;
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, yaitu adanya lebih dari satu kreditor dan &#xD;
utang yang telah jatuh tempo namun tidak dibayar, tanpa mensyaratkan pembuktian &#xD;
insolvency secara menyeluruh. Kepailitan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor &#xD;
non-yuridis seperti kondisi ekonomi debitor, lemahnya manajemen dan tata kelola &#xD;
perusahaan, ketidaktertiban administrasi, serta adanya itikad tidak baik. Prosedur &#xD;
pengajuan pailit dalam UU KPKPU dirancang sebagai mekanisme peradilan khusus &#xD;
yang berasaskan cepat, sederhana, dan biaya ringan, dengan penerapan prinsip &#xD;
pembuktian sederhana serta akibat hukum putusan yang bersifat serta-merta melalui &#xD;
pengangkatan kurator dan hakim pengawas. Adapun mekanisme penyelesaian &#xD;
kepailitan di Pengadilan Niaga dilaksanakan melalui tahapan beracara yang &#xD;
terstruktur, mulai dari pengajuan permohonan, pemeriksaan perkara, hingga &#xD;
putusan pailit, serta dilanjutkan dengan pengurusan dan pemberesan harta pailit &#xD;
oleh kurator di bawah pengawasan hakim pengawas, dan dimungkinkan upaya &#xD;
hukum kasasi ke Mahkamah Agung.</description>
      <pubDate>Fri, 10 Apr 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30504</guid>
      <dc:date>2026-04-10T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

