<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Community: Fakultas Hukum</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/11</link>
    <description>Fakultas Hukum</description>
    <pubDate>Sat, 04 Apr 2026 09:43:30 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-04T09:43:30Z</dc:date>
    <item>
      <title>EFEKTIVITAS PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN  KLAIM ASURANSI JIWA MELALUI BADAN PENYELESAIAN   SENGKETA KONSUMEN (BPSK)</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30289</link>
      <description>Title: EFEKTIVITAS PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN  KLAIM ASURANSI JIWA MELALUI BADAN PENYELESAIAN   SENGKETA KONSUMEN (BPSK)
Authors: FARADIBA, AULIA RAHMAH
Abstract: Efektivitas prosedur penyelesaian sengketa klaim asuransi jiwa melalui &#xD;
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (selanjutnya disingkat BPSK) merupakan &#xD;
aspek penting dalam upaya perlindungan hukum terhadap konsumen jasa asuransi. &#xD;
Sengketa klaim asuransi jiwa sering muncul akibat penolakan klaim oleh &#xD;
perusahaan asuransi, perbedaan penafsiran terhadap isi polis, serta wanprestasi &#xD;
dalam pelaksanaan perjanjian asuransi. Penelitian ini, BPSK berperan sebagai &#xD;
lembaga non-litigasi yang memberikan alternatif penyelesaian sengketa yang lebih &#xD;
cepat, sederhana, dan biaya ringan dibandingkan jalur pengadilan namun, &#xD;
efektivitas pelaksanaan prosedur penyelesaian sengketa melalui BPSK masih &#xD;
menjadi persoalan, karena adanya kendala sumber daya atau kurangnya &#xD;
pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan kewenangan BPSK, keterbatasan &#xD;
sumber daya manusia yang kompeten di bidang asuransi, tumpang tindih &#xD;
kewenangan dengan lembaga lain seperti OJK dan pengadilan, serta lemahnya &#xD;
pelaksanaan putusan BPSK di lapangan. &#xD;
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian &#xD;
hukum normatif empiris dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan &#xD;
sosiologi hukum. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan pengumpulan &#xD;
data melalui studi kepustakaan terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, &#xD;
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014, serta peraturan pelaksana lainnya dan &#xD;
didukung oleh studi lapangan melalui wawancara. Analisis penelitian difokuskan &#xD;
pada penilaian kesesuaian antara ketentuan hukum yang berlaku dengan praktik &#xD;
penyelesaian sengketa klaim asuransi jiwa melalui Badan Penyelesaian Sengketa &#xD;
Konsumen dalam menjamin perlindungan hukum yang efektif bagi konsumen. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa BPSK memiliki peran strategis dalam &#xD;
menyelesaikan sengketa klaim asuransi jiwa, namun efektivitasnya belum optimal. &#xD;
Kendala utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia yang kompeten di &#xD;
bidang asuransi, rendahnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi dan &#xD;
kewenangan BPSK, tumpang tindih kewenangan dengan lembaga lain, serta &#xD;
lemahnya pelaksanaan putusan BPSK. Upaya peningkatan efektivitas penyelesaian &#xD;
sengketa memerlukan penguatan kelembagaan BPSK, perbaikan koordinasi antar &#xD;
lembaga, peningkatan kepatuhan perusahaan asuransi, serta peningkatan literasi &#xD;
konsumen agar perlindungan hukum dapat terwujud secara lebih optimal.</description>
      <pubDate>Fri, 27 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30289</guid>
      <dc:date>2026-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>IMPLEMENTASI PEMBAGIAN HARTA PUSAKA TINGGI  KEPADA ANAK LAKI-LAKI PEWARIS STUDI DI DESA  SUNGAI JARIANG BUKITTINGGI</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30222</link>
      <description>Title: IMPLEMENTASI PEMBAGIAN HARTA PUSAKA TINGGI  KEPADA ANAK LAKI-LAKI PEWARIS STUDI DI DESA  SUNGAI JARIANG BUKITTINGGI
Authors: Bunga, Mirza Humaira
Abstract: Masyarakat Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal yang &#xD;
menempatkan pusaka tinggi sebagai harta warisan kolektif dalam garis ibu. Namun, &#xD;
perkembangan sosial memunculkan perubahan dalam praktik pewarisan, termasuk &#xD;
pemberian pusaka tinggi kepada anak laki-laki, seperti terlihat di Desa Sungai &#xD;
Jariang, Bukittinggi. Pergeseran ini menimbulkan ketegangan antara norma adat, &#xD;
prinsip faraidh, serta kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan &#xD;
menganalisis keberlakuan hukum pusaka tinggi, memeriksa praktik pembagiannya &#xD;
kepada anak laki-laki, dan mengidentifikasi kendala yang muncul dalam &#xD;
implementasinya. Kajian ini diharapkan memberikan pemahaman mengenai &#xD;
dinamika pewarisan adat di tengah perubahan sosial yang terus berkembang. &#xD;
Penelitian ini memakai metode empiris dan deskriptif untuk mengkaji &#xD;
praktik pembagian pusaka tinggi. Data diperoleh melalui studi pustaka, observasi, &#xD;
dan wawancara. Seluruh informasi dianalisis secara kualitatif guna menghasilkan &#xD;
pemahaman faktual serta jawaban ilmiah terhadap rumusan masalah yang diteliti &#xD;
dalam konteks sosial adat masyarakat setempat pada lokasi penelitian yang telah &#xD;
ditentukan. &#xD;
Kedudukan harta pusaka tinggi di Desa Sungai Jariang hingga kini tetap &#xD;
diatur berdasarkan adat Minangkabau yang berlandaskan sistem kekerabatan &#xD;
matrilineal, meskipun masyarakat telah mengalami dinamika sosial dan &#xD;
bersinggungan dengan hukum modern. Pusaka tinggi dipahami sebagai simbol &#xD;
identitas kaum dan penyangga keberlanjutan keluarga, sehingga pengelolaannya &#xD;
tetap berada dalam kewenangan perempuan garis ibu dan mamak sebagai pemimpin &#xD;
adat. Dalam praktiknya, anak laki-laki tidak memperoleh hak kepemilikan atas &#xD;
pusaka tinggi, namun dalam kondisi tertentu dapat diberikan hak pemanfaatan &#xD;
berdasarkan musyawarah kaum, terutama apabila yang bersangkutan berperan aktif &#xD;
dalam menjaga atau mengelola harta tersebut. Adapun kendala pelaksanaannya &#xD;
bersumber dari faktor internal berupa perbedaan pemahaman adat serta faktor &#xD;
eksternal akibat pengaruh perubahan sosial, yang menuntut upaya peningkatan &#xD;
pemahaman hukum Islam dan penyesuaian nilai adat secara selektif agar sistem &#xD;
pewarisan tetap relevan tanpa menghilangkan prinsip dasar budaya Minangkabau.</description>
      <pubDate>Fri, 27 Feb 2026 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30222</guid>
      <dc:date>2026-02-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PROSES PENYELESAIAN SENGKETA MEREK DI  INDONESIA PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG   MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30037</link>
      <description>Title: PROSES PENYELESAIAN SENGKETA MEREK DI  INDONESIA PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG   MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS
Authors: IMAM, MAHDY
Abstract: Persaingan usaha yang semakin ketat dalam era perdagangan global telah &#xD;
menempatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), khususnya merek, sebagai instrumen &#xD;
penting dalam melindungi identitas dan reputasi produk. Pelanggaran terhadap hak merek &#xD;
sering memunculkan sengketa hukum antara pelaku usaha, baik karena adanya peniruan, &#xD;
pendaftaran dengan itikad tidak baik, maupun penggunaan merek terkenal tanpa izin. &#xD;
Dalam konteks Indonesia, perlindungan hukum terhadap merek diatur melalui Undang&#xD;
Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, yang bertujuan &#xD;
memberikan kepastian hukum bagi pemilik hak merek sekaligus menjaga persaingan &#xD;
usaha yang sehat.  &#xD;
Penelitian ini Menggunakan Metode normatif dengan pendekatan perundang&#xD;
undangan (statute approach), konseptual (conceptual approach), dan pendekatan kasus &#xD;
(case approach). Data yang digunakan merupakan bahan hukum primer berupa undang&#xD;
undang dan putusan pengadilan, serta bahan hukum sekunder seperti literatur ilmiah, &#xD;
jurnal hukum, dan komentar ahli. Analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif, dengan &#xD;
menafsirkan norma hukum yang relevan dan mengaitkannya dengan praktik penyelesaian &#xD;
sengketa merek di Indonesia. &#xD;
Hasil penelitian pada Penulisan Skripsi ini menunjukkan bahwa sengketa merek di &#xD;
Indonesia meliputi berbagai bentuk, antara lain sengketa pendaftaran merek, persamaan &#xD;
pada pokoknya atau keseluruhannya, penggunaan merek terkenal tanpa izin, pendaftaran &#xD;
dengan itikad tidak baik, serta sengketa antara merek dan indikasi geografis. Penyelesaian &#xD;
secara litigasi melalui Pengadilan Niaga memberikan kepastian hukum, namun seringkali &#xD;
memakan waktu dan biaya yang tinggi. Sementara itu, penyelesaian secara non-litigasi &#xD;
seperti mediasi, arbitrase, dan negosiasi dinilai lebih efisien dan berpotensi menjaga &#xD;
hubungan baik antara para pihak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas &#xD;
penyelesaian sengketa merek di Indonesia sangat bergantung pada konsistensi penegakan &#xD;
hukum, peningkatan profesionalitas aparat, serta kesadaran masyarakat terhadap &#xD;
pentingnya perlindungan merek sebagai aset ekonomi dan hukum.</description>
      <pubDate>Thu, 27 Nov 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30037</guid>
      <dc:date>2025-11-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>KAJIAN HUKUM TATA NEGARA DALAM  PENGANGKATAN MENTERI NEGARA MENURUT  SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL   DI INDONESIA</title>
      <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30029</link>
      <description>Title: KAJIAN HUKUM TATA NEGARA DALAM  PENGANGKATAN MENTERI NEGARA MENURUT  SISTEM PEMERINTAHAN PRESIDENSIAL   DI INDONESIA
Authors: Nasution, Ikhsanul Rizki
Abstract: Berdasarkan ketatanegaraan Indonesia, pada bentuk pemerintahan berlaku sistem &#xD;
presidensil. Artinya Presiden selaku pejabat eksekutif adalah pemegang kekuasaan &#xD;
tertinggi sebagai kepala negara dan juga kepala pemerintahan untuk menjalankan &#xD;
amanah dan pengembanan tugas-tugas negara dan pemerintahan berdasarkan &#xD;
Pancasila dan UUD NRI 1945. Seperti pada pengangkatan Menteri Negara dalam &#xD;
struktur kabinet pemerintahan. Para Menteri dipilih dan diangkat Presiden &#xD;
berdasarkan kewenangan dan hak prerogatifnya untuk membantu berbagai tugas &#xD;
Presiden dan kinerja pemerintahannya. Namun pada fenomenanya, keterpilihan dan &#xD;
keputusan Presiden dalam pengangkatan seorang Menteri seringkali dipengaruhi &#xD;
oleh unsur politis lainnya, seperti permintaan jatah Menteri dari partai pendukung &#xD;
pemerintah. Dimana permintaan tersebut pada akhirnya berpotensi mempengaruhi &#xD;
hak prerogatif Presiden untuk memilih para Menteri yang berkompeten pada bidang &#xD;
tugasnya. Dimana hal itu terbukti dari banyaknya Menteri negara yang berperilaku &#xD;
tidak baik, melakukan perbuatan melanggar hukum, seperti pada praktik korupsi &#xD;
dan lainnya. &#xD;
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, menggunakan &#xD;
teknik analisis kualitatif yang kemudian dipaparkan dan dianalisa menggunakan &#xD;
metode deskriptif analitis. Jenis pendekatan yang digunakan pada penulisan skripsi &#xD;
ini adalah pendekatan kepustakaan (library research), yaitu dengan mempelajari &#xD;
buku serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan pengangkatan menteri negara &#xD;
yang merupakan hak prerogatif Presiden pada sistem pemerintahan presidensial di &#xD;
Indonesia, tingkat  peluang  keterpilihan  pengangkatan  menteri  negara oleh &#xD;
Presiden  atas  dasar  permintaan partai  politik  menurut  sistem  pemerintahan &#xD;
presidensial, dan bagaimana kedudukan hukum menteri negara dalam pelaksanaan &#xD;
tugas pasca pengangkatannya kepada Presiden. &#xD;
Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa keterpilihan dan keputusan Presiden &#xD;
dalam pengangkatan seorang Menteri seringkali dipengaruhi oleh unsur politis yang &#xD;
sumbernya datang dari partai koalisi pendukung Presiden itu sendiri. Dimana partai &#xD;
koalisi menyodorkan nama-nama calon Menteri dari partai mereka masing-masing &#xD;
untuk dapat duduk di kabinet pemerintahan. Sehingga dengan keadaan ini &#xD;
menyulitkan Presiden untuk memilih para Menteri yang memang kompeten dan &#xD;
professional dibidangnya.</description>
      <pubDate>Thu, 04 Sep 2025 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30029</guid>
      <dc:date>2025-09-04T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

