<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/6">
<title>Students Paper</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/6</link>
<description>Skripsi Mahasiswa</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32258"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32257"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32256"/>
<rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/handle/123456789/32255"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-10-12T13:03:51Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32258">
<title>HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG  SINAR ULTRAVIOLET DENGAN PENGGUNAAN TABIR SURYA  PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32258</link>
<description>HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG  SINAR ULTRAVIOLET DENGAN PENGGUNAAN TABIR SURYA  PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN  UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
Saragih, Andrea Ajeng Gisella
Pendahuluan: Paparan radiasi ultraviolet (UV) berlebih berpotensi memicu &#13;
berbagai lesi dan gangguan kulit, mulai dari eritema (sunburn), hiperpigmentasi, &#13;
penuaan dini (photoaging), hingga keganasan kulit. Aplikasi tabir surya merupakan &#13;
salah satu tindakan fotoproteksi utama terhadap bahaya radiasi UV. Meskipun &#13;
demikian, tingkat pemahaman kognitif seseorang tidak selalu berbanding lurus &#13;
dengan kepatuhan perilakunya. Riset ini dilaksanakan guna mengevaluasi korelasi &#13;
antara pemahaman mengenai radiasi ultraviolet (UV) dan praktik penggunaan tabir &#13;
surya pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera &#13;
Utara. Metode: Studi kuantitatif analitik ini menggunakan rancangan cross sectional dengan pendekatan observasional. Sampel sebanyak 85 mahasiswa FK &#13;
UMSU ditentukan melalui metode simple random sampling, sedangkan data primer &#13;
diperoleh menggunakan instrumen kuesioner, diikuti analisis data secara univariat &#13;
dan bivariat memakai Uji Korelasi Rank-Spearman. Hasil: Karakteristik subjek &#13;
didominasi oleh responden perempuan. Tingkat pengetahuan radiasi UV kategori &#13;
baik ditemukan pada 53 subjek (62,4%), sedangkan tingkat penggunaan tabir surya &#13;
kategori baik tercatat pada 41 subjek (48,2%). Hasil evaluasi bivariat Rank Spearman menghasilkan nilai p = 0,084, yang mengindikasikan bahwa tidak adanya &#13;
hubungan yang menunjukkan signifikansi secara statistik antara pengetahuan sinar &#13;
UV dan praktik penggunaan tabir surya pada mahasiswa FK UMSU. Kesimpulan: &#13;
Tingkat pengetahuan mengenai sinar UV tidak menunjukkan adanya hubungan &#13;
yang signifikan dengan perilaku penggunaan tabir surya di kalangan mahasiswa FK &#13;
UMSU. Praktik pengaplikasian tabir surya diproyeksikan lebih banyak dipengaruhi &#13;
oleh variabel eksternal seperti kebiasaan personal, aksesibilitas produk, norma &#13;
lingkungan, serta persepsi individu dalam merawat kesehatan kulit.
</description>
<dc:date>2026-07-16T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32257">
<title>ANALISIS POTENSI ANTIOKSIDAN DAUN KETEPENG CINA (Senna alata L.) TERHADAP KANKER PAYUDARA MELALUI  JALUR p53 DENGAN METODE MOLECULAR DOCKING DAN  UJI DPPH (1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl)</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32257</link>
<description>ANALISIS POTENSI ANTIOKSIDAN DAUN KETEPENG CINA (Senna alata L.) TERHADAP KANKER PAYUDARA MELALUI  JALUR p53 DENGAN METODE MOLECULAR DOCKING DAN  UJI DPPH (1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl)
EDYSTI
Latar Belakang: Kanker payudara merupakan salah satu penyebab utama &#13;
kematian pada perempuan di dunia. Daun Ketepeng cina (Senna alata L.) &#13;
mengandung senyawa Chrysophanol yang memiliki aktivitas antioksidan dan &#13;
berpotensi sebagai agen antikanker melalui interaksi dengan protein p53. Tujuan:&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun &#13;
ketepeng cina menggunakan metode DPPH serta mengetahui potensi interaksi &#13;
senyawa Chrysophanol terhadap protein p53 melalui metode molecular docking. &#13;
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik. Aktivitas &#13;
antioksidan diuji menggunakan metode DPPH pada panjang gelombang 517 nm. &#13;
Vitamin C digunakan sebagai kontrol positif dengan konsentrasi 10–40 ppm, &#13;
sedangkan ekstrak etanol daun Ketepeng cina diuji pada konsentrasi 100–800 ppm. &#13;
Analisis aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney. Analisis &#13;
molecular docking dilakukan untuk mengetahui afinitas ikatan senyawa &#13;
Chrysophanol terhadap protein p53 dengan Docetaxel sebagai senyawa &#13;
pembanding. Hasil: Vitamin C menunjukkan aktivitas antioksidan yang lebih &#13;
tinggi dibandingkan ekstrak etanol daun Ketepeng cina. Aktivitas antioksidan &#13;
tertinggi ekstrak etanol daun Ketepeng cina diperoleh pada konsentrasi 200 ppm. &#13;
Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada &#13;
konsentrasi perlakuan dengan nilai p = 0,029, sedangkan pada persen inhibisi tidak &#13;
terdapat perbedaan yang signifikan dengan nilai p = 0,686. Hasil molecular docking&#13;
menunjukkan bahwa Chrysophanol memiliki energi pengikatan sebesar −4,77 &#13;
kcal/mol, konstanta inhibisi 319,05 µM, dan RMSD 1,989 Å, sedangkan Docetaxel &#13;
memiliki energi pengikatan −2,47 kcal/mol, konstanta inhibisi 15.340 µM, dan &#13;
RMSD 2,597 Å. Kesimpulan: Ekstrak etanol daun Ketepeng cina memiliki &#13;
aktivitas antioksidan dan senyawa Chrysophanol menunjukkan afinitas ikatan yang &#13;
lebih baik terhadap protein p53 dibandingkan Docetaxel, sehingga berpotensi &#13;
dikembangkan sebagai kandidat agen antikanker berbasis bahan alam.
</description>
<dc:date>2026-09-02T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32256">
<title>HUBUNGAN ANTARA GERD SYMPTOM SCORE DENGAN  KEJADIAN LARYNGOPHARYNGEAL REFLUX (LPR)  BERDASARKAN RSI DAN RFS PADA PASIEN  YANG TELAH TERDIAGNOSIS LPR</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32256</link>
<description>HUBUNGAN ANTARA GERD SYMPTOM SCORE DENGAN  KEJADIAN LARYNGOPHARYNGEAL REFLUX (LPR)  BERDASARKAN RSI DAN RFS PADA PASIEN  YANG TELAH TERDIAGNOSIS LPR
Zahira, Najma
Latar Belakang: Laryngopharyngeal reflux (LPR) merupakan kondisi ketika isi &#13;
lambung mengalami refluks hingga mencapai laring dan faring, yang dapat &#13;
menimbulkan berbagai keluhan seperti suara serak, sensasi mengganjal di &#13;
tenggorokan, sering berdehem, batuk, dan iritasi pita suara. LPR memiliki &#13;
hubungan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD), namun manifestasi &#13;
gejala GERD dan temuan klinis pada laring tidak selalu menunjukkan hubungan &#13;
yang sama. Penilaian gejala GERD dapat dilakukan menggunakan &#13;
Gastroesophageal Reflux Disease Questionnaire (GERDQ), sedangkan LPR dapat &#13;
dievaluasi berdasarkan Reflux Symptom Index (RSI) dan Reflux Finding Score&#13;
(RFS). Tujuan: Menganalisis hubungan antara GERD Symptom Score dengan &#13;
kejadian LPR berdasarkan RSI dan RFS pada pasien yang telah terdiagnosis LPR. &#13;
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain &#13;
cross-sectional yang dilakukan di RSU Mitra Medika Bandar Klippa dan RSUD &#13;
Drs. H. Amri Tambunan. Sebanyak 47 pasien LPR berusia 20–45 tahun dipilih &#13;
menggunakan teknik consecutive sampling. Data diperoleh melalui pengisian &#13;
GERDQ dan RSI serta pemeriksaan laringoskopi untuk penilaian RFS. Hubungan &#13;
antarvariabel dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Dari 47 &#13;
responden, sebanyak 35 orang (74,5%) berjenis kelamin perempuan dan 12 orang &#13;
(25,5%) laki-laki, dengan rerata usia 33,87 ± 7,32 tahun. Sebanyak 42 responden &#13;
(89,4%) memenuhi kriteria GERD berdasarkan GERDQ, seluruh responden &#13;
(100%) memenuhi kriteria LPR berdasarkan RSI, dan 39 responden (83,0%) &#13;
memiliki RFS ≥7. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif yang &#13;
bermakna dengan kekuatan sedang antara skor GERDQ dan RSI (r = 0,458; p = &#13;
0,001). Sementara itu, hubungan antara skor GERDQ dan RFS menunjukkan &#13;
korelasi positif yang sangat lemah dan tidak bermakna secara statistik (r = 0,161; p &#13;
= 0,281). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara skor GERDQ &#13;
dengan gejala LPR berdasarkan RSI, tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna &#13;
antara skor GERDQ dengan temuan laring berdasarkan RFS pada pasien yang telah &#13;
terdiagnosis LPR.
</description>
<dc:date>2026-09-06T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://localhost:8080/handle/123456789/32255">
<title>KORELASI MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN DIET DAN KORELASI TINGKAT STRES DENGAN  KEPATUHAN DIET PENURUNAN BERAT BADAN PADA  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
<link>http://localhost:8080/handle/123456789/32255</link>
<description>KORELASI MOTIVASI DENGAN KEPATUHAN DIET DAN KORELASI TINGKAT STRES DENGAN  KEPATUHAN DIET PENURUNAN BERAT BADAN PADA  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
PUTRI, NASHWA RHAISYA
Latar Belakang: Keberhasilan diet penurunan berat badan sangat dipengaruhi oleh &#13;
kepatuhan indicidu dalam menjalankan pola makan yang dianjurkan. Motivasi dan &#13;
tingkat stres merupakan faktor psikologis yang berpotensi memengaruhi kepatuhan &#13;
diet, terutama pada mahasiswa kedokteran yang menghadapi tuntutan akademik &#13;
tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan motivasi dan tingkat &#13;
stres dengan kepatuhan diet penurunan berat badan pada mahasiswa Fakultas &#13;
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. &#13;
Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain potong lingtang ini &#13;
meggunakan kuesioner Treatment Regulation Questionarre (TSRQ) untuk &#13;
mengukur tingkat motivasi, Perceived Stress Scale (PSS) untuk tingkat stres, &#13;
dan Perceived Dietary Adherence Questionarre (PDAQ) yang dimotifikasi &#13;
untuk tingkat kepatuhan diet. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi &#13;
Spearman untuk mengetahui arah dan kekuatan hubungan. Nilai signifikansi &#13;
ditetapkan pada tingkat kepercayaan 95% (p&lt;0,05). Hasil: Sebagian besar &#13;
mahasiswa memiliki tingkat motivasi yang baik (66,3%), tingkat stres yang tinggi &#13;
(50,5%) dan tingkat kepatuhan diet yang tinggi (81,1%). Terdapat hubungan positif &#13;
antara motivasi dengan kepatuhan diet (p&lt;0,001, r=0,481) dan terdapat hubungan &#13;
positif antara tingkat stres dengan kepatuhan diet (p&lt;0,001), r=0,331).&#13;
Kesimpulan: Semakin baik motivasi dan tingginya tingkat stres yang dimiliki &#13;
mahasiswa FKIK UMSU, maka semakin tinggi tingkat kepatuhan diet penurunan &#13;
berat badan
</description>
<dc:date>2026-08-10T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
