<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/33">
    <title>DSpace Collection: Ilmu Hukum</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/33</link>
    <description>Ilmu Hukum</description>
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30519" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30518" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30517" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30513" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-04-26T19:40:37Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30519">
    <title>PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KARYAWAN YANG  DIPUTUS HUBUNGAN KERJA OLEH PIHAK TANPA  WEWENANG  (ANALISIS NORMATIF UNDANG-UNDANG  NOMOR 13 TAHUN 2003)</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30519</link>
    <description>Title: PERLINDUNGAN HUKUM BAGI KARYAWAN YANG  DIPUTUS HUBUNGAN KERJA OLEH PIHAK TANPA  WEWENANG  (ANALISIS NORMATIF UNDANG-UNDANG  NOMOR 13 TAHUN 2003)
Authors: PANE, NURUL FADHILA
Abstract: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) merupakan tindakan hukum yang &#xD;
berdampak langsung terhadap berakhirnya hubungan kerja serta hilangnya sumber &#xD;
penghidupan karyawan. Oleh karena itu, PHK seharusnya hanya dilakukan oleh &#xD;
pihak yang memiliki kewenangan sah dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan &#xD;
peraturan perundang-undangan. Namun dalam praktik hubungan industrial, masih &#xD;
ditemukan PHK yang dilakukan oleh pihak tanpa wewenang sehingga &#xD;
menimbulkan ketidakpastian hukum dan berpotensi merugikan karyawan. &#xD;
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini membahas ketentuan hukum mengenai &#xD;
kewenangan dalam melakukan PHK menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun &#xD;
2003, akibat hukum dari PHK yang dilakukan oleh pihak tanpa wewenang, serta &#xD;
bentuk perlindungan hukum bagi karyawan yang mengalami PHK secara tidak sah. &#xD;
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan sifat &#xD;
deskriptif analitis. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan &#xD;
peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Pendekatan peraturan &#xD;
perundang-undangan dilakukan dengan menelaah ketentuan hukum terkait &#xD;
pemutusan hubungan kerja. Pendekatan konseptual digunakan untuk memahami &#xD;
kewenangan dan perlindungan hukum dalam hubungan kerja. Sumber data &#xD;
penelitian terdiri atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Penelitian ini juga &#xD;
menggunakan sumber hukum Islam yang berkaitan dengan prinsip keadilan. &#xD;
Seluruh bahan hukum dianalisis secara kualitatif dan sistematis. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan melakukan PHK &#xD;
menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 hanya dimiliki oleh pengusaha &#xD;
atau pihak yang secara sah mewakili pengusaha serta harus dilaksanakan sesuai &#xD;
dengan prosedur hukum yang berlaku. PHK yang dilakukan oleh pihak tanpa &#xD;
wewenang dapat dinyatakan tidak sah atau batal demi hukum, sehingga hubungan &#xD;
kerja dianggap tetap ada dan pengusaha tetap berkewajiban memenuhi hak-hak &#xD;
normatif karyawan. Perlindungan hukum bagi karyawan yang di-PHK secara tidak &#xD;
sah diwujudkan melalui perlindungan hukum preventif dan represif, termasuk &#xD;
melalui mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial guna menjamin &#xD;
kepastian hukum dan keadilan bagi karyawan.</description>
    <dc:date>2026-03-10T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30518">
    <title>KONSTITUSIONALITAS PROGRAM MAKAN BERGIZI  GRATIS SEBAGAI PEMENUHAN HAK DASAR  PENGHIDUPAN YANG LAYAK</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30518</link>
    <description>Title: KONSTITUSIONALITAS PROGRAM MAKAN BERGIZI  GRATIS SEBAGAI PEMENUHAN HAK DASAR  PENGHIDUPAN YANG LAYAK
Authors: Natasya, Putri Hani
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstitusionalitas Program &#xD;
Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai instrumen pemenuhan hak dasar &#xD;
penghidupan yang layak berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik &#xD;
Indonesia Tahun 1945. Hak atas penghidupan yang layak memiliki landasan &#xD;
konstitusional yang kuat, khususnya dalam Pasal 27 ayat (2), Pasal 28H ayat (1), &#xD;
dan Pasal 34 UUD 1945, yang menegaskan kewajiban negara dalam menjamin &#xD;
kesejahteraan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga negara. Dalam &#xD;
konteks negara kesejahteraan (welfare state), kebijakan MBG yang dilaksanakan &#xD;
oleh Badan Gizi Nasional merupakan manifestasi tanggung jawab konstitusional &#xD;
negara dalam menyediakan akses pangan bergizi, terutama bagi kelompok rentan, &#xD;
serta mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju visi Indonesia Emas &#xD;
2045. &#xD;
Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan &#xD;
pendekatan perundang-undangan dan studi kasus. Data yang digunakan berupa &#xD;
bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang dianalisis secara kualitatif. Hasil &#xD;
penelitian menunjukkan bahwa secara normatif MBG telah memiliki dasar hukum &#xD;
yang memadai dan selaras dengan prinsip konstitusi. Namun, munculnya kasus &#xD;
keracunan dalam pelaksanaannya menunjukkan adanya kelemahan dalam aspek &#xD;
pengawasan, standar keamanan pangan, dan akuntabilitas kelembagaan. Kondisi &#xD;
tersebut berpotensi menimbulkan persoalan konstitusional apabila tidak disertai &#xD;
penguatan tata kelola dan perlindungan hak asasi manusia. &#xD;
Dengan demikian, Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya merupakan &#xD;
kebijakan sosial administratif, tetapi juga instrumen konstitusional yang harus &#xD;
dilaksanakan berdasarkan prinsip legalitas, akuntabilitas, dan perlindungan hak &#xD;
konstitusional warga negara agar tujuan pemenuhan hak atas penghidupan yang &#xD;
layak dapat terwujud secara efektif dan berkeadilan.</description>
    <dc:date>2026-04-06T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30517">
    <title>KONSTITUSIONALITAS FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK  PARTAI POLITIK TERHADAP PEMILIH PEMULA DALAM  PEMILIHAN UMUM</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30517</link>
    <description>Title: KONSTITUSIONALITAS FUNGSI PENDIDIKAN POLITIK  PARTAI POLITIK TERHADAP PEMILIH PEMULA DALAM  PEMILIHAN UMUM
Authors: Salsabila, Tasya Rifqa
Abstract: Partai politik memiliki kedudukan konstitusional sebagai sarana &#xD;
pendidikan politik bagi masyarakat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang &#xD;
Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 tentang Partai Politik. &#xD;
Fungsi pendidikan politik tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, &#xD;
pemahaman, dan partisipasi politik warga negara, termasuk pemilih pemula &#xD;
sebagai kelompok strategis dalam setiap penyelenggaraan pemilihan umum. &#xD;
Namun dalam praktiknya, pelaksanaan fungsi pendidikan politik oleh partai &#xD;
politik masih menghadapi berbagai permasalahan, seperti rendahnya literasi &#xD;
politik pemilih pemula, dominasi orientasi elektoral, serta kurang optimalnya &#xD;
pembinaan politik yang berkelanjutan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan &#xD;
mengenai sejauh mana pelaksanaan fungsi pendidikan politik partai politik telah &#xD;
sesuai dengan prinsip-prinsip konstitusional dan peraturan perundang-undangan &#xD;
yang berlaku. &#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaturan fungsi pendidikan &#xD;
politik oleh partai politik dalam peraturan perundang-undangan Indonesia, &#xD;
menganalisis implementasinya terhadap pemilih pemula dalam praktik pemilu, &#xD;
serta mengkaji pelaksanaan fungsi tersebut dalam meningkatkan kesadaran politik &#xD;
pemilih pemula. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum &#xD;
normatif dengan pendekatan yuridis normatif, yaitu menelaah norma hukum &#xD;
dalam Undang-Undang Dasar 1945, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2011 &#xD;
tentang Partai Politik, dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang &#xD;
Pemilihan Umum, serta literatur dan doktrin hukum yang relevan. &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara normatif fungsi pendidikan &#xD;
politik telah memiliki dasar hukum yang jelas dan tegas, namun dalam &#xD;
implementasinya masih belum optimal. Pendidikan politik terhadap pemilih &#xD;
pemula sering kali bersifat temporer dan lebih berorientasi pada kepentingan &#xD;
elektoral daripada pembentukan kesadaran politik yang substantif. Oleh karena &#xD;
itu, diperlukan penguatan pelaksanaan fungsi pendidikan politik secara sistematis, &#xD;
berkelanjutan, dan bertanggungjawab guna meningkatkan kualitas partisipasi &#xD;
politik pemilih pemula sebagai wujud pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam sistem &#xD;
demokrasi Indonesia.</description>
    <dc:date>2026-04-09T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30513">
    <title>TINJAUAN YURIDIS UNSUR GRATIFIKASI DALAM  TINDAK PIDANA KORUPSI YANG DILAKUKAN OLEH  BUPATI</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30513</link>
    <description>Title: TINJAUAN YURIDIS UNSUR GRATIFIKASI DALAM  TINDAK PIDANA KORUPSI YANG DILAKUKAN OLEH  BUPATI
Authors: Br Ginting Suka, Sevia Anggraini
Abstract: Gratifikasi merupakan pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian &#xD;
uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, &#xD;
fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas &#xD;
lainnya. Keadaan gratifikasi tidak terlepas dari unsur dan modus yang dilakukan &#xD;
pelaku demi mewujudkan keinginnya, dengan menggunakan cara pemberian &#xD;
hadiah atau parsel kepada pejabat atau penyelenggara negara. Pasal 12B dan 12C &#xD;
memuat sejumlah unsur penting yang membagi antara gratifikasi sebagai &#xD;
pemberian dalam arti umum dan gratifikasi yang dianggap sebagai suap. &#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unsur-unsur tindak pidana &#xD;
gratifikasi, bentuk-bentuk gratifikasi yang dilakukan oleh kepala daerah, serta &#xD;
sanksi yang dikenakan terhadap pemberi dan penerima gratifikasi. Penelitian ini &#xD;
menggunakan penelitian normatif yang disebut juga sebagai penelitian &#xD;
perpustakaan atau studi dokumen, dan bersifat deskriptif karena penelitian ini &#xD;
dilakukan atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan&#xD;
bahan hukum yang lain, dengan pendekatana per-undang-undangan (statute &#xD;
approach).  &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ketentuan mengenai &#xD;
gratifikasi telah diatur secara tegas dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 &#xD;
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, dalam &#xD;
praktiknya masih banyak pihak yang keliru memahami gratifikasi sebagai sekadar &#xD;
bentuk tanda terima kasih atau budaya pemberian yang wajar. Persepsi tersebut &#xD;
berkembang karena adanya kebiasaan sosial yang menganggap pemberian hadiah &#xD;
kepada pejabat sebagai bentuk penghargaan atau ungkapan terima kasih. Padahal, &#xD;
apabila pemberian tersebut memiliki keterkaitan dengan jabatan dan bertentangan &#xD;
dengan kewajiban atau tugas penerima kemudian tidak dilaporkan kepada komisi &#xD;
pemberantas korupsi, maka gratifikasi tersebut dapat dikualifikasikan sebagai &#xD;
tindak pidana korupsi.</description>
    <dc:date>2026-04-10T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

