<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/152">
    <title>DSpace Collection: Magister Ilmu Hukum</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/152</link>
    <description>Magister Ilmu Hukum</description>
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30899" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30801" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30763" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30762" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-05-20T21:34:08Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30899">
    <title>ASPEK HUKUM PEMANFAATAN SISTEM PEMERINTAHAN  BERBASIS ELEKTRONIK (SPBE) DALAM  PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI NEGARA</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30899</link>
    <description>Title: ASPEK HUKUM PEMANFAATAN SISTEM PEMERINTAHAN  BERBASIS ELEKTRONIK (SPBE) DALAM  PENYELENGGARAAN ADMINISTRASI NEGARA
Authors: HARMAYNI, HERMAN
Abstract: Pemanfaatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) adalah elemen &#xD;
penting dari reformasi birokrasi dalam upaya mencapai pengelolaan pemerintahan &#xD;
yang lebih efisien, efektif, transparan, dan akuntabel. Tujuan dari penelitian ini adalah &#xD;
untuk menganalisis posisi hukum penggunaan SPBE dalam pelaksanaan administrasi &#xD;
negara di Indonesia, mengevaluasi masalah hukum yang muncul dalam penerapannya &#xD;
di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Medan, serta &#xD;
merumuskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mendukung keberhasilan &#xD;
implementasinya.  &#xD;
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris &#xD;
dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Data &#xD;
dikumpulkan melalui literatur serta wawancara dengan pejabat di Disdukcapil Kota &#xD;
Medan. Analisis dilakukan menggunakan tiga teori hukum, yaitu teori kepastian &#xD;
hukum, teori pemanfaatan hukum, dan teori kewenangan hukum.  &#xD;
Temuan penelitian menunjukkan bahwa dari segi normatif, penggunaan SPBE &#xD;
memiliki landasan hukum yang kokoh yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor &#xD;
95 Tahun 2018 mengenai SPBE dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 terkait &#xD;
Administrasi Kependudukan. Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai &#xD;
kendala, seperti kurangnya infrastruktur teknologi informasi, rendahnya kemampuan &#xD;
literasi digital di beberapa kalangan masyarakat, serta antrean yang panjang dalam &#xD;
layanan langsung meskipun layanan daring telah disediakan. Berdasarkan analisis &#xD;
menggunakan teori kewenangan hukum, penerapan SPBE di Disdukcapil Kota Medan &#xD;
terbukti efektif secara normatif dan struktural, meskipun secara sosiologis masih perlu &#xD;
perbaikan. Rekomendasi dari penelitian ini mencakup peningkatan kapasitas sumber &#xD;
daya manusia, peningkatan sosialisasi mengenai literasi digital bagi masyarakat, &#xD;
penguatan kebijakan internal, serta komitmen dari pihak pimpinan yang konsisten &#xD;
untuk mewujudkan layanan administrasi kependudukan berbasis elektronik secara &#xD;
optimal dan berkelanjutan.</description>
    <dc:date>2026-04-16T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30801">
    <title>ANALISIS PROSES PERSETUJUAN BERSAMA  KEPALA DAERAH DENGAN DEWAN PERWAKILAN  RAKYAT DAERAH DALAM PENYUSUNAN  ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH  (STUDI DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN LABUHANBATU  PROVINSI SUMATERA UTARA)</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30801</link>
    <description>Title: ANALISIS PROSES PERSETUJUAN BERSAMA  KEPALA DAERAH DENGAN DEWAN PERWAKILAN  RAKYAT DAERAH DALAM PENYUSUNAN  ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH  (STUDI DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN LABUHANBATU  PROVINSI SUMATERA UTARA)
Authors: MADA RITONGA, RIZKI DOLI
Abstract: Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah merupakan salah satu alat yang &#xD;
memegang peran penting dalam rangka meningkatkan pelayanan publik dan &#xD;
kesejahtraan masyarakat sesuai dengan otonomi daerah yang luas, nyata dan &#xD;
bertanggung jawab. Dengan demikian maka APBD harus benar-benar dapat &#xD;
mencerminkan kebutuhan masyarakat.  &#xD;
Metode penelitian dapat diartikan sebagai semua metode atau teknik yang &#xD;
digunakan untuk melakukan penelitian. Jenis dalam penelitian ini adalah &#xD;
penelitian hukum empiris. Pendekatan yang digunakan pendekatan peraturan &#xD;
perundang - undangan. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Penelitian ini &#xD;
menggunakan data primer dan data sekunder. Alat pengumpul data dengan cara &#xD;
wawancara dan studi kepustakaan. Analisis data dalam penelitian ini dianalisis &#xD;
secara kualitatif. &#xD;
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dimulai dengan &#xD;
menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah yang menjadi pedoman penyusunan &#xD;
Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara serta &#xD;
dilanjutakan dengan menyusun Rencana Kerja Anggaran. Dewan Perwakilan &#xD;
Rakyat Daerah merupakan lembaga perwakilan rakyat di daerah yang memiliki &#xD;
kedudukan sebagai penghubung antara rakyat dan pemerintah daerah. Masyarakat, &#xD;
sebagai pemegang kedaulatan, memiliki keterbatasan untuk terlibat secara &#xD;
langsung dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan. Penyusunan APBD &#xD;
merupakan proses yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga politis dan &#xD;
yuridis. APBD sebagai produk hukum daerah ditetapkan melalui mekanisme &#xD;
pengambilan keputusan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD.  &#xD;
Proses penyusunan APBD oleh pemerintah daerah menunjukkan bahwa &#xD;
APBD merupakan instrumen kebijakan yang memiliki dimensi hukum, politik, &#xD;
dan administratif secara sekaligus. Dalam proses penyusunan APBD, DPRD &#xD;
berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah bersama kepala &#xD;
daerah. Pengambilan keputusan bersama dalam penetapan APBD  menunjukkan &#xD;
bahwa proses tersebut merupakan puncak dari seluruh tahapan perencanaan dan &#xD;
pembahasan anggaran daerah yang dilaksanakan secara bersama antara &#xD;
pemerintah daerah dan DPRD. Penyusunan APBD oleh pemerintah daerah &#xD;
Kabupaten Labuhanbatu sebaiknya dilaksanakan dengan lebih partisipatif dan &#xD;
transparan. Kedudukan DPRD Kabupaten Labuhanbatu dalam penyusunan APBD &#xD;
perlu terus diperkuat.</description>
    <dc:date>2026-04-24T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30763">
    <title>HASIL AUDIT AKUNTAN PUBLIK SEBAGAI  DASAR PENETAPAN KERUGIAN NEGARA   (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor:  58/Pid.Sus.TPK/2022/PN. Mdn)</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30763</link>
    <description>Title: HASIL AUDIT AKUNTAN PUBLIK SEBAGAI  DASAR PENETAPAN KERUGIAN NEGARA   (Analisis Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor:  58/Pid.Sus.TPK/2022/PN. Mdn)
Authors: HARAHAP, HERMAN
Abstract: Penelitian ini berangkat dari problematika yuridis mengenai kaburnya batas &#xD;
kewenangan dalam penetapan kerugian negara, khususnya akibat penggunaan hasil &#xD;
audit Akuntan Publik dalam praktik peradilan tindak pidana korupsi. Secara &#xD;
normatif, kewenangan tersebut merupakan atribusi konstitusional Badan Pemeriksa &#xD;
Keuangan, namun dalam praktik peradilan, termasuk dalam Putusan Pengadilan &#xD;
Negeri Medan Nomor: 58/Pid.Sus.TPK/2022/PN. Mdn, hasil audit akuntan publik &#xD;
digunakan sebagai dasar pembuktian kerugian negara. Kondisi ini menimbulkan &#xD;
ketegangan antara norma hukum administrasi dan praktik penegakan hukum, yang &#xD;
berimplikasi pada ketidakjelasan legitimasi penetapan kerugian negara.  &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara hukum administrasi, hasil audit &#xD;
akuntan publik tidak memiliki kewenangan atributif dan tidak dapat &#xD;
dikualifikasikan sebagai penetapan kerugian negara yang sah, melainkan hanya &#xD;
sebagai alat bukti yang bersifat komplementer. Namun, dalam praktik peradilan, &#xD;
terjadi perluasan makna pembuktian yang menempatkan hasil audit tersebut seolah&#xD;
olah memiliki kedudukan setara dengan lembaga yang berwenang. Hal ini &#xD;
mencerminkan adanya pergeseran fungsi kewenangan dari ranah administratif ke &#xD;
ranah yudisial yang bersifat pragmatis, tetapi tidak sepenuhnya selaras dengan &#xD;
prinsip legalitas. Implikasi dari kondisi tersebut adalah munculnya inkonsistensi &#xD;
yuridis yang serius, berupa kaburnya batas antara kewenangan atribusi lembaga &#xD;
negara dan peran pihak privat, yang pada akhirnya berpotensi mereduksi prinsip &#xD;
legalitas dan merusak struktur hukum keuangan negara. Lebih jauh, praktik ini &#xD;
membuka ruang terjadinya legitimasi semu terhadap kerugian negara yang tidak &#xD;
ditetapkan oleh otoritas yang berwenang, sehingga berisiko menimbulkan disparitas &#xD;
putusan dan ketidakpastian hukum. &#xD;
Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan hasil audit akuntan publik &#xD;
dalam perkara korupsi seharusnya dibatasi secara ketat hanya sebagai alat bantu &#xD;
pembuktian, bukan sebagai dasar penetapan kerugian negara. Oleh karena itu, &#xD;
diperlukan rekonstruksi norma hukum yang menegaskan batas kewenangan, serta &#xD;
konsistensi hakim dalam menempatkan kerugian negara sebagai konsep hukum &#xD;
publik yang tunduk pada prinsip legalitas secara ketat.</description>
    <dc:date>2026-04-18T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30762">
    <title>PENGUATAN KEWENANGAN KELEMBAGAAN  PEMERINTAH DAERAH TERHADAP PENATAAN  SEMPADAN SUNGAI DALAM MEWUJUDKAN TATA RUANG  WILAYAH BERKELANJUTAN DI SUMATERA UTARA</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30762</link>
    <description>Title: PENGUATAN KEWENANGAN KELEMBAGAAN  PEMERINTAH DAERAH TERHADAP PENATAAN  SEMPADAN SUNGAI DALAM MEWUJUDKAN TATA RUANG  WILAYAH BERKELANJUTAN DI SUMATERA UTARA
Authors: Alviemuna Nasution, Reyhana
Abstract: Kawasan sempadan sungai di Sumatera Utara mengalami degradasi serius &#xD;
akibat alih fungsi lahan, permukiman liar, dan lemahnya penegakan hukum tata &#xD;
ruang. Persoalan mendasar adalah kesenjangan antara das sollen dan das sein regulasi &#xD;
yang mengatur sempadan sungai secara normatif sudah komprehensif, namun &#xD;
lemahnya kewenangan kelembagaan pemerintah daerah menyebabkan regulasi tidak &#xD;
berjalan efektif di lapangan. &#xD;
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum yuridis normatif &#xD;
dengan sifat deskriptif-analitis. Pendekatan yang digunakan meliputi pendekatan &#xD;
perundang-undangan (statute approach), pendekatan konseptual (conceptual &#xD;
approach), dan pendekatan komparatif (comparative approach. Data diperoleh &#xD;
melalui penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan dengan wawancara, &#xD;
kemudian dianalisis secara kualitatif &#xD;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep penataan ruang sempadan sungai &#xD;
yang berkelanjutan berlandaskan prinsip sustainable development, keterpaduan tata &#xD;
ruang, dan perlindungan kawasan lindung sebagaimana diamanatkan UU Penataan &#xD;
Ruang dan UU Sumber Daya Air. Kewenangan kelembagaan pemerintah daerah &#xD;
Sumatera Utara menghadapi fragmentasi kewenangan antar-lembaga, tumpang tindih &#xD;
regulasi pasca UU Cipta Kerja, lemahnya kapasitas pengawasan, serta kesenjangan &#xD;
regulasi daerah dengan nasional. Implementasi penguatan kewenangan kelembagaan &#xD;
memerlukan model tiga pilar: penguatan regulasi melalui harmonisasi RTRW, &#xD;
penguatan kapasitas kelembagaan melalui SDM, teknologi geospasial, dan PPNS tata &#xD;
ruang, serta penguatan koordinasi melalui forum collaborative governance yang &#xD;
terlembaga dan mengikat secara hukum. Penelitian ini menunjukkan bahwa &#xD;
penguatan kewenangan kelembagaan pemerintah daerah merupakan prasyarat utama &#xD;
terwujudnya tata ruang sempadan sungai yang berkelanjutan di Sumatera Utara, &#xD;
dengan kepastian hukum dan akuntabilitas kelembagaan sebagai fondasinya.</description>
    <dc:date>2026-04-24T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

