<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/13">
    <title>DSpace Community: Fakultas Kedokteran</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/13</link>
    <description>Fakultas Kedokteran</description>
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30281" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30280" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30279" />
        <rdf:li rdf:resource="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30278" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-04-04T18:53:55Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30281">
    <title>FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGRUHI TINGKAT  KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI  UPT PUSKESMAS SUKARAMAI</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30281</link>
    <description>Title: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGRUHI TINGKAT  KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TB PARU DI  UPT PUSKESMAS SUKARAMAI
Authors: AVISENA, MUHAMMAD
Abstract: Pendahuluan: Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh &#xD;
Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru. Penularannya terjadi melalui &#xD;
udara ketika penderita TB aktif batuk, bersin, atau berbicara sehingga bakteri dapat terhirup &#xD;
oleh orang lain. Gejala umum TB paru meliputi batuk kronis, dahak bercampur darah, demam, &#xD;
penurunan berat badan, dan keringat malam. TB paru merupakan salah satu masalah kesehatan &#xD;
utama di dunia, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua setelah India sebagai &#xD;
negara dengan beban TB tertinggi. Terapi TB paru membutuhkan pengobatan jangka panjang &#xD;
dengan regimen obat anti-TB (OAT) selama 6–9 bulan. Keberhasilan pengobatan sangat &#xD;
dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara teratur. Namun, berbagai &#xD;
faktor dapat memengaruhi tingkat kepatuhan pasien, baik dari sisi individu, keluarga, maupun &#xD;
pelayanan kesehatan. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif analitik dengan &#xD;
pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada pasien TB paru dengan tujuan &#xD;
menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat. Sampel &#xD;
penelitian diperoleh melalui teknik purposive sampling, dengan kriteria pasien TB paru yang &#xD;
sedang menjalani pengobatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Variabel yang diteliti meliputi &#xD;
pengetahuan pasien, dukungan keluarga, efek samping obat, dan peran fasilitas kesehatan. &#xD;
Analisis data dilakukan menggunakan uji statistik untuk mengetahui hubungan antara faktor faktor tersebut dengan tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat. Hasil: Berdasarkan hasil &#xD;
penelitian, faktor pengetahuan pasien tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap &#xD;
kepatuhan minum obat. Dukungan keluarga terbukti memiliki hubungan signifikan dengan &#xD;
kepatuhan pasien. Efek samping obat juga terbukti menjadi faktor yang paling berpengaruh &#xD;
terhadap kepatuhan minum obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, peran fasilitas &#xD;
kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pasien. Pasien yang &#xD;
tidak mengalami efek samping serius cenderung lebih patuh dalam mengonsumsi obat, &#xD;
sedangkan pasien yang mendapatkan dukungan keluarga lebih mampu menjaga rutinitas &#xD;
pengobatan secara konsisten. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor &#xD;
yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat pada pasien TB paru adalah efek &#xD;
samping obat, diikuti oleh dukungan keluarga. Sementara itu, pengetahuan pasien dan peran &#xD;
fasilitas kesehatan tidak berhubungan signifikan dengan tingkat kepatuhan. Temuan ini &#xD;
menegaskan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi tentang efek &#xD;
samping obat serta strategi penanganannya, sehingga pasien tetap termotivasi untuk &#xD;
melanjutkan terapi. Selain itu, dukungan keluarga juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu &#xD;
faktor kunci dalam keberhasilan pengobatan TB paru.</description>
    <dc:date>2025-08-30T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30280">
    <title>PERBEDAAN DERAJAT KEASAMAN KULIT WAJAH  ANTARA PENDERITA AKNE VULGARIS DENGAN  TANPA AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30280</link>
    <description>Title: PERBEDAAN DERAJAT KEASAMAN KULIT WAJAH  ANTARA PENDERITA AKNE VULGARIS DENGAN  TANPA AKNE VULGARIS PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
Authors: PRAHANDA, SURYA
Abstract: Latar Belakang : Akne vulgaris merupakan penyakit kulit inflamasi kronik pada &#xD;
unit pilosebasea yang banyak dialami remaja dan dewasa muda. Penyakit ini tidak &#xD;
hanya memengaruhi aspek dermatologis, tetapi juga berdampak pada kualitas &#xD;
hidup pasien. Salah satu faktor yang berperan dalam patogenesis akne vulgaris &#xD;
adalah perubahan derajat keasaman (pH) kulit wajah. Penelitian ini bertujuan &#xD;
untuk mengetahui perbedaan rerata pH kulit wajah antara mahasiswa dengan akne &#xD;
vulgaris dan tanpa akne vulgaris). Metode : Penelitian ini menggunakan desain &#xD;
analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 20 &#xD;
mahasiswa dengan akne vulgaris dan 20 mahasiswa tanpa akne vulgaris. Data pH &#xD;
kulit wajah diperoleh melalui pemeriksaan langsung dan dianalisis menggunakan &#xD;
uji Independent Sample T-test.. Hasil : Rerata pH kulit wajah pada kelompok &#xD;
penderita akne vulgaris adalah 5,08 ± 0,30, sedangkan pada kelompok tanpa akne &#xD;
vulgaris adalah 4,44 ± 0,14. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan &#xD;
bermakna rerata pH kulit wajah antara kedua kelompok (p = 0,000). &#xD;
Kesimpulan : Terdapat perbedaan signifikan derajat keasaman kulit wajah antara &#xD;
mahasiswa penderita akne vulgaris dan tanpa akne vulgaris, di mana kelompok &#xD;
akne memiliki pH lebih tinggi. Peningkatan pH kulit wajah dapat berperan &#xD;
sebagai faktor risiko penting dalam perkembangan akne vulgaris.</description>
    <dc:date>2025-08-10T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30279">
    <title>ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KAFEIN PADA  KOPI TERHADAP GEJALA GERD DI KALANGAN  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30279</link>
    <description>Title: ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KAFEIN PADA  KOPI TERHADAP GEJALA GERD DI KALANGAN  MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
Authors: Satyawan, Lia Andini
Abstract: Latar Belakang : Gatroesophageal Reflux Disease (GERD) didefinisikan sebagai &#xD;
gangguan yang dimana isi lambung berulang kali naik ke esog=Fagus yang &#xD;
menyebabkan gejala mengganggu. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) &#xD;
merupakan penyakit gastrointestinal yang umum di seluruh dunia yang dipicu &#xD;
oleh gaya hidup seseorang terutama konsumsi kafein. Tujuan : Untuk mengetahui &#xD;
hubungan antara konsumsi kafein pada kopi terhadap gejala GERD di kalangan &#xD;
mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. &#xD;
Metode : Penelitian inni merupakan deskriptif analitik dengan desain oenelitian &#xD;
cross sectional yang berarti objek penelitian akan diobservasi satu kali saja dan &#xD;
pengukuran variabel akan dilakukan pada saaat pemeriksaan. Hasil Penelitian : &#xD;
Hasil analisis bivariat antara konsumsi kopi dengan gejala GERD yaitu p = 0.001&#xD;
(p &lt; 0.05). Kesimpulan : Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi &#xD;
kafein pada kopi terhadap gejala GERD di kalangan mahasiswa/i Fakultas &#xD;
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.</description>
    <dc:date>2025-09-13T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30278">
    <title>HUBUNGAN KEBERSIHAN MULUT DENGAN GIGI BERLUBANG PADA PASIEN POLI GIGI DI UPTD PUSKESMAS DESA SEI REJO  KECAMATAN SEI RAMPAH KABUPATEN SEDANG BEDAGAI</title>
    <link>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30278</link>
    <description>Title: HUBUNGAN KEBERSIHAN MULUT DENGAN GIGI BERLUBANG PADA PASIEN POLI GIGI DI UPTD PUSKESMAS DESA SEI REJO  KECAMATAN SEI RAMPAH KABUPATEN SEDANG BEDAGAI
Authors: AUDRINI, ESA LUTFIA
Abstract: Pendahuluan: karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan &#xD;
mulut dengan prevalensi tinggi di Indonesia. Kebersihan mulut yang kurang &#xD;
optimal berperan dalam meningkatkan akumulasi plak dan kolonisasi bakteri &#xD;
kariogenik, yang memicu proses demineralisasi enamel. Identifikasi &#xD;
mikroorganisme penyebab serta pola sensitivitas antibiotik penting untuk &#xD;
mendukung terapi yang rasional. Metode: penelitian observasional analitik &#xD;
dengan desain cross-sectional dilakukan pada 49 pasien poli gigi di UPTD &#xD;
Puskesmas Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. &#xD;
Status kebersihan mulut diukur menggunakan kuesioner terstruktur, sedangkan &#xD;
jumlah karies ditentukan melalui pemeriksaan klinis. Identifikasi bakteri &#xD;
dilakukan melalui pewarnaan Gram dari apusan lesi karies. Uji sensitivitas &#xD;
antibiotik menggunakan metode difusi cakram (Kirby–Bauer) terhadap &#xD;
clindamycin, cefixime, dan sulphamethoxazole. Analisis bivariat menggunakan uji &#xD;
Chi-Square dan besar risiko dinyatakan dalam Odds Ratio (OR) dengan interval &#xD;
kepercayaan 95%. Hasil: terdapat hubungan bermakna antara kebersihan mulut &#xD;
dan kejadian karies gigi (p=0,001). Responden dengan kebersihan mulut buruk &#xD;
memiliki risiko lebih tinggi mengalami karies ≥2 gigi dibandingkan responden &#xD;
dengan kebersihan tidak-buruk (OR=78,95; IK95% 4,14–1505,32). &#xD;
Mikroorganisme yang teridentifikasi meliputi Streptococcus mutans, &#xD;
Lactobacillus acidophilus, dan Staphylococcus aureus, serta temuan Candida sp. &#xD;
Sensitivitas antibiotik menunjukkan isolat lebih responsif terhadap &#xD;
sulphamethoxazole dan cefixime dibandingkan clindamycin. Kesimpulan:&#xD;
Kebersihan mulut berhubungan signifikan dengan kejadian karies gigi. Variasi &#xD;
pola sensitivitas antibiotik pada bakteri kariogenik menunjukkan pentingnya &#xD;
pendekatan pencegahan berbasis higiene serta pertimbangan uji sensitivitas dalam &#xD;
pemilihan terapi antimikroba.</description>
    <dc:date>2026-01-30T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

