<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection: Teknologi Hasil Pangan</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/20" />
  <subtitle>Teknologi Hasil Pangan</subtitle>
  <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/20</id>
  <updated>2026-05-16T19:08:12Z</updated>
  <dc:date>2026-05-16T19:08:12Z</dc:date>
  <entry>
    <title>PENGARUH METODE PERLAKUAN TERHADAP PENGERINGAN KERIPIK JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30923" />
    <author>
      <name>SATRIA, ANANTRA ZEBUA</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30923</id>
    <updated>2026-05-13T02:52:27Z</updated>
    <published>2026-04-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGARUH METODE PERLAKUAN TERHADAP PENGERINGAN KERIPIK JAMUR TIRAM (Pleurotus ostreatus)
Authors: SATRIA, ANANTRA ZEBUA
Abstract: Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) termasuk dalam keluarga Pleurotaceae &#xD;
dan genus Pleurotus. Jamur ini memiliki permukaan yang halus dan sedikit &#xD;
berminyak saat lembab, dengan tepi yang agak bergelombang. Tangkai jamur &#xD;
tiram terletak di samping tudung dan berwarna putih, sementara daging buahnya &#xD;
juga putih. Jamur ini memiliki tangkai bercabang dan tudung yang besar, dengan &#xD;
diameter antara 3-15 cm. Jamur tiram tumbuh dengan baik pada kayu lunak di &#xD;
ketinggian sekitar 600 meter dari permukaan laut. Metode yang di gunakan dalam &#xD;
penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dua faktorial dengan faktor pertama &#xD;
yaitu Faktor I : Jenis perlakuan (P) dimana P0 = Tanpa perlakuan, P1 = Blanching &#xD;
70º selama 5 menit, P2 = Pengukusan dengn suhu 850 selama 20 menit, P3 = &#xD;
Natrium Karbonat (Na2CO3) selama 10 menit dan Faktor II : Lama pengeringan &#xD;
suhu 70° C (L) L1 = 1,5 jam, L2 = 2 jam, L3 = 2,5 jam, L4 = 3 Jam. Setiap &#xD;
perlakuan di ulang sebanyak 2x sehingga di peroleh 32 unit percobaan. Metode &#xD;
analisis data yang di gunakan adalah ANOVA dengan parameter yang di uji &#xD;
meliputi kadar air, protein, antioksidan, susut bobot, warna, organoleptik tekstur, &#xD;
aroma dan rasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis perlakuan berpengaruh &#xD;
sangat nyata terhadap keseluruhan parameter yang di uji, begitupun dengan lama &#xD;
pengeringan semuanya memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap &#xD;
parameter yang di uji. Berdasarkan penelitian ini di peroleh perlakuan terbaik &#xD;
yaitu P2L4 yaitu dengan jenis perlakuan pengukusan dan waktu 3 jam.</summary>
    <dc:date>2026-04-16T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>SIFAT FISIKO KIMIA DAUN KERING SAMBILOTO (Andrographis paniculata) pada PENGERINGAN DEHUMIDIFIKASI MENGGUNAKAN PENDINGIN EFEK PELTIER</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30710" />
    <author>
      <name>EDRIA, DEMA DWI SURYA</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/30710</id>
    <updated>2026-05-05T01:05:12Z</updated>
    <published>2026-01-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: SIFAT FISIKO KIMIA DAUN KERING SAMBILOTO (Andrographis paniculata) pada PENGERINGAN DEHUMIDIFIKASI MENGGUNAKAN PENDINGIN EFEK PELTIER
Authors: EDRIA, DEMA DWI SURYA
Abstract: Komponen aktif sambiloto (Andrographis paniculata), andrographolide, &#xD;
dikenal karena kemampuannya untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh, &#xD;
melawan bakteri, dan mengurangi peradangan. Herba ini kaya akan manfaat &#xD;
kesehatan. Peralatan yang terpasang pada tas sadel akan dikeringkan dalam &#xD;
penelitian ini menggunakan efek Peltier. Teknologi pengeringan Peltier dapat &#xD;
mengurangi dampak buruk kelembapan tinggi terhadap sifat fisik sambiloto, seperti &#xD;
degradasi warna dan teksturnya. Penelitian ini akan menganalisis sifat kimia dan &#xD;
fisik tanah sambiloto menggunakan probe kelembapan Peltier. Penelitian ini akan &#xD;
melacak tekanan udara, aktivitas udara, dan keberadaan agen penyegel tanah aktif &#xD;
setelah penetrasi untuk mengembangkan metode penetrasi yang lebih baik dan lebih &#xD;
aman. Peneliti menggunakan pendekatan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan &#xD;
mempertimbangkan dua variabel: jumlah bahan bakar (105-270 gram) dan durasi &#xD;
memasak (7-12 jam). Yang perlu dinilai adalah konsentrasi antioksidan, aroma &#xD;
organoleptik, warna (L*, a*, b*), dan kelarutan dalam air. Studi ini menemukan &#xD;
bahwa durasi pertumbuhan tanaman secara signifikan memengaruhi profil aroma &#xD;
dan rasa, serta kandungan udara kering, metrik warna (L*, a*, b*), dan waktu yang &#xD;
dibutuhkan untuk menanam bola akar. Pada radar, terdapat hubungan terbalik yang &#xD;
signifikan (p&lt;0,01) antara jumlah bahan dalam nosel sambiloto dan kadar &#xD;
antioksidan, kandungan udara, parameter warna L*, a*, b*, dan karakteristik rasa &#xD;
dan aroma organoleptik. Hubungan antara jumlah bahan baku dan lamanya &#xD;
pengeringan secara signifikan dipengaruhi (p&lt;0,01) oleh parameter antioksidan, &#xD;
kelembaban udara, metrik warna L*, a*, b*, dan evaluasi organoleptik aroma dan &#xD;
rasa saat mengeringkan sambiloto basah. Baik Anda menguji antioksidan setelah &#xD;
10 menit penanaman atau setelah 7 menit, jumlah benih yang Anda gunakan sangat &#xD;
memengaruhi seberapa cepat benih tersebut berkecambah.</summary>
    <dc:date>2026-01-22T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENGARUH BENTUK KERING DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP ANTIOKSIDAN DAN KONTAMINASI MIKROBA PADA JAHE HITAM (Kaempferia parviflora)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29939" />
    <author>
      <name>RIDWAN, ANSORI SITEPU</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29939</id>
    <updated>2025-11-07T07:30:32Z</updated>
    <published>2025-09-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGARUH BENTUK KERING DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP ANTIOKSIDAN DAN KONTAMINASI MIKROBA PADA JAHE HITAM (Kaempferia parviflora)
Authors: RIDWAN, ANSORI SITEPU
Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbandingan dan &#xD;
penurunan terhadap kandungan antioksidan pada variasi bentuk kering dan adanya &#xD;
kontaminasi mikroba selama penyimpanan berlangsung. Untuk sampel peneliti &#xD;
membeli dan memesan lewat Online Shop yang mana sampel diperoleh dari petani &#xD;
jahe hitam yang berada di pulau Jawa tepatnya di Jawa Barat kabupaten Garut dan &#xD;
untuk mengujinya dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian &#xD;
Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Penelitian ini &#xD;
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan (3) ulangan. &#xD;
Faktor I adalah bentuk kering jahe hitam dangan sandi (P) yang terdiri atas 3 taraf &#xD;
yaitu : P₁= Chip, P₂= Parut, P₃= Bubuk. Faktor II adalah lama penyimpanan jahe &#xD;
hitam dengan sandi (M) yang terdiri dari 3 taraf yaitu : M₁ = 0 bulan, M₂= 6 bulan, &#xD;
M₃= 12 bulan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, antioksidan, kontaminasi &#xD;
mikroba, warna L, a*, b*. Hasil menunjukkan bahwa hubungan bentuk kering dan &#xD;
lama penyimpanan memberikan pengaruh interaksi berbeda sangat nyata (P&lt;0,01) &#xD;
terhadap kadar air, warna L, a*, antioksidan dan total mikroba, namunn &#xD;
memberikan pengaruh tidak nyata terhadap warna b* pada jahe hitam. Dan untuk &#xD;
perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan bentuk kering chip dengan lama &#xD;
penyimpanan 0 bulan.</summary>
    <dc:date>2025-09-16T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PEMANFAATAN TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinacea)  DAN BUBUK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP  CRACKERS BERNUTRISI TINGGI</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29779" />
    <author>
      <name>SYAHBINA, SULISTIA</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/29779</id>
    <updated>2025-11-04T07:58:01Z</updated>
    <published>2025-08-20T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PEMANFAATAN TEPUNG UMBI GARUT (Maranta arundinacea)  DAN BUBUK DAUN KELOR (Moringa oleifera) TERHADAP  CRACKERS BERNUTRISI TINGGI
Authors: SYAHBINA, SULISTIA
Abstract: terigu  &#xD;
Crackers merupakan camilan yang dibuat dengan menggunakan tepung &#xD;
dan minyak nabati ataupun mentega, diolah dengan atau tanpa &#xD;
menggunakan  proses fermentasi  dan memiliki tampilan yang pipih dan  &#xD;
bertekstur rapuh.  Namun penggunaan tepung terigu yang meningkat setiap &#xD;
tahunnya oleh sebab itu untuk mengatasi tingkat kenaikan  diperlukan alternatif &#xD;
pegganti tepung terigu untuk mengatasi tingkat penggunaan tepung terigu. &#xD;
Alternatif yang dapat digunakan sebagai penganti tepung terigu adalah tepung &#xD;
garut dan tepung kelor. Tujuan penggunaan tepung garut dan tepung kelor adalah &#xD;
untuk mengetahui kandungan nutrisi dan nilai organoleptik produk crackers &#xD;
yang diolah dengan menggunakan tepung garut dengan waktu pemanggangan &#xD;
yang bervariasi. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil &#xD;
Pertanian, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Penelitian ini &#xD;
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktoria dengan 2 (dua) &#xD;
ulangan. Faktor I adalah persentasi tepung umbi garut dan bubuk daun kelor (F1) &#xD;
terdiri atas 4 taraf yaitu F1: 80%:20%, F2: 85%:15%, F3: 90%:10%, F4: &#xD;
95%:5%. Faktor II adalah waktu pemanggangan (W) yang terdiri atas 4 taraf &#xD;
yaitu: W1: 15 menit, W2: 20 menit, W3: 25 menit, W4: 30 menit. Parameter &#xD;
yang diamati yaitu karbohidrat, protein, warna L* a* b*, tekstur, organoleptik &#xD;
aroma dan rasa. Hasil menunjukkan penggunaan tepung garut dan bubuk kelor &#xD;
meningkatkan kandungan karbohidrat pada setiap perlakuan, namun kandungan &#xD;
protein tertinggi terdapat pada perlakuan F1W1 (F1: 80%:20% dan W1:15 &#xD;
menit). Semakin tinggi persentasi  bubuk daun kelor dan semakin menurun &#xD;
tepung garut, nilai karbohidart semakin meningka dan warna produk cenderung &#xD;
lebih gelap. Secara organoleptik aroma dan rasa produk berbeda sangat nyata &#xD;
aroma dan rasa pada produk kash daun kelor sangat kuat. Lama pemanggangan &#xD;
menyebabkan penurunan kadar protein pada perlakuan kedua, tiga dan keempat &#xD;
namun memenuhi standar SNI pada perlakuan pertama. Tekstur produk yang &#xD;
dihasilkan semakin rapuh seiring dengan bertambahnya waktu pemanggangan. &#xD;
Interaksi antara tepung umbi garut : bubuk daun kelor dan waktu pemanggangan &#xD;
memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P&lt;0,01) terhadap karbohidrat, &#xD;
protein, tekstur, warna L* b dan organoleptik rasa, namun berpengaruh tidak &#xD;
nyata (P&lt;0,05) pada parameter warna a* dan organoleptik aroma. Penelitian ini menyarankan memperhatikan penggunaan persentase tepung &#xD;
daun kelor dan disarankan untuk penelitian selanjutnya menggunakan bahan atau &#xD;
perisa yang dapat menutupi dan mengurangi rasa pahit dan bau langu pada &#xD;
produk yang dihasilkan namun tetap mempertahankan keunggulan nutrisi daun &#xD;
kelor.</summary>
    <dc:date>2025-08-20T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

