<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection: Magister Ilmu Hukum</title>
  <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/152" />
  <subtitle>Magister Ilmu Hukum</subtitle>
  <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/152</id>
  <updated>2026-06-30T08:43:02Z</updated>
  <dc:date>2026-06-30T08:43:02Z</dc:date>
  <entry>
    <title>ANALISIS DAMPAK UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2021  TENTANG HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN   TERHADAP PELAKU USAHA DI INDONESIA</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31803" />
    <author>
      <name>KURNIADI, MAULIDA AGUSDILA</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31803</id>
    <updated>2026-06-22T03:19:54Z</updated>
    <published>2026-05-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: ANALISIS DAMPAK UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 2021  TENTANG HARMONISASI PERATURAN PERPAJAKAN   TERHADAP PELAKU USAHA DI INDONESIA
Authors: KURNIADI, MAULIDA AGUSDILA
Abstract: Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan &#xD;
Perpajakan (UU HPP) merupakan kebijakan strategis pemerintah Indonesia dalam &#xD;
rangka reformasi sistem perpajakan nasional yang bertujuan tidak hanya &#xD;
meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi &#xD;
nasional secara berkelanjutan. Reformasi ini mencakup penataan ulang berbagai &#xD;
rezim perpajakan, antara lain Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, &#xD;
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, serta pengaturan perpajakan atas &#xD;
aktivitas ekonomi digital. &#xD;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif dampak &#xD;
penerapan UU HPP terhadap kinerja pelaku usaha di Indonesia, baik dari &#xD;
perspektif makroekonomi maupun sektoral. Metode penelitian yang digunakan &#xD;
adalah yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan dan &#xD;
konseptual, yang didukung oleh analisis terhadap literatur ekonomi publik, &#xD;
kebijakan fiskal nasional, serta pandangan pakar di bidang perpajakan dan &#xD;
ekonomi Indonesia. &#xD;
Dalam jangka pendek, reformasi perpajakan ini menimbulkan tekanan &#xD;
terhadap likuiditas usaha, margin keuntungan, dan biaya kepatuhan, terutama &#xD;
akibat kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai, perluasan basis pajak, serta &#xD;
percepatan digitalisasi administrasi perpajakan. Sektor usaha padat karya, usaha &#xD;
mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pelaku ekonomi digital skala kecil &#xD;
relatif lebih rentan terhadap dampak tersebut. &#xD;
Hasil penelitian menunjukan dalam jangka menengah dan panjang, UU &#xD;
HPP berpotensi memberikan manfaat struktural berupa peningkatan kepastian &#xD;
hukum, persaingan usaha yang lebih adil, penguatan kapasitas fiskal negara, serta &#xD;
perluasan basis pajak yang lebih berkelanjutan tanpa bergantung pada kenaikan &#xD;
tarif secara agresif. Selain itu, digitalisasi perpajakan membuka peluang &#xD;
peningkatan efisiensi administrasi, transparansi fiskal, dan kepatuhan sukarela &#xD;
wajib pajak. Oleh karena itu, keberhasilan implementasi UU HPP sangat &#xD;
bergantung pada kebijakan pendukung yang inklusif, penyederhanaan &#xD;
administrasi perpajakan, pendampingan berkelanjutan bagi UMKM, serta &#xD;
konsistensi kebijakan di sektor ekonomi digital agar tujuan reformasi perpajakan &#xD;
dapat tercapai tanpa menghambat pertumbuhan dunia usaha.</summary>
    <dc:date>2026-05-09T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>ANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN SATWA LIAR  DALAM KONTEKS KONSERVASI SUMBER DAYA  ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA   (Studi Putusan Nomor. 106/Pid.Sus/2024/PN.Tjb)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31802" />
    <author>
      <name>ROSA SITORUS PANE, MAULIDA AGUSDILA</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31802</id>
    <updated>2026-06-22T03:09:15Z</updated>
    <published>2026-05-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: ANALISIS YURIDIS PERLINDUNGAN SATWA LIAR  DALAM KONTEKS KONSERVASI SUMBER DAYA  ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA   (Studi Putusan Nomor. 106/Pid.Sus/2024/PN.Tjb)
Authors: ROSA SITORUS PANE, MAULIDA AGUSDILA
Abstract: Perlindungan satwa liar merupakan aspek penting dalam konservasi sumber daya &#xD;
alam hayati dan ekosistemnya, mengingat maraknya praktik penyelundupan yang &#xD;
mengancam keberlangsungan spesies dilindungi. Salah satu kasus yang relevan &#xD;
adalah penyelundupan sisik trenggiling melalui KM. Fajar 99 yang kemudian &#xD;
diputus &#xD;
dalam Putusan Nomor 106/Pid.Sus/2024/PN.Tjb. menganalisis &#xD;
pertanggungjawaban pidana dalam perkara tersebut, khususnya terhadap nakhoda &#xD;
kapal, yang ditunjuk menggantikan kapten utama, serta mengkaji peran Bea Cukai, &#xD;
perusahaan pelayaran, dan eksportir dalam konteks penegakan hukum perlindungan &#xD;
satwa liar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif &#xD;
dengan pendekatan kasus, perundang-undangan, dan konseptual. Sumber data &#xD;
diperoleh melalui studi kepustakaan, dokumen putusan pengadilan, dan peraturan &#xD;
terkait konservasi sumber daya alam maupun hukum kepabeanan. Hasil penelitian &#xD;
menunjukkan bahwa unsur kesengajaan dari terdakwa tidak terpenuhi, karena &#xD;
Syamsir hanya melaksanakan fungsi navigasi dan keselamatan pelayaran &#xD;
berdasarkan dokumen resmi yang diserahkan kepadanya. Tanggung jawab &#xD;
pemuatan barang sepenuhnya berada pada eksportir dan perusahaan pelayaran (PT. &#xD;
Melda Jaya), sedangkan Mualim I bertugas memeriksa dan mencocokkan dokumen &#xD;
manifest dengan barang muatan. Di sisi lain, Bea Cukai tidak melaksanakan &#xD;
kewajiban pemeriksaan fisik (boatzoeking) sebagaimana mestinya, sehingga celah &#xD;
hukum dimanfaatkan oleh eksportir untuk menyelundupkan satwa dilindungi. &#xD;
Kondisi ini menunjukkan bahwa fokus penegakan hukum tidak semestinya &#xD;
diarahkan pada nakhoda semata, tetapi juga pada korporasi, eksportir, serta aparat &#xD;
pengawas yang lalai. putusan ini menegaskan pentingnya penerapan &#xD;
pertanggungjawaban pidana korporasi, penguatan mekanisme pengawasan Bea &#xD;
Cukai, serta koordinasi antar lembaga dalam penegakan hukum penyelundupan &#xD;
satwa liar. Upaya perlindungan satwa dilindungi tidak cukup hanya dengan &#xD;
menjerat individu di lapangan, tetapi harus menyasar aktor intelektual, pemilik &#xD;
barang, dan perusahaan pelayaran yang menjadi bagian dari rantai penyelundupan.</summary>
    <dc:date>2026-05-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENERAPAN HUKUM PIDANA TERHADAP PELAKU  RESIDIVIS TINDAK PIDANA PERIKANAN DI ZONA  EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA   (Studi Di Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan  Perikanan Belawan)</title>
    <link rel="alternate" href="http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31801" />
    <author>
      <name>KURNIAWAN, ADHI</name>
    </author>
    <id>http://repository.umsu.ac.id/handle/123456789/31801</id>
    <updated>2026-06-22T03:02:45Z</updated>
    <published>2026-04-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENERAPAN HUKUM PIDANA TERHADAP PELAKU  RESIDIVIS TINDAK PIDANA PERIKANAN DI ZONA  EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA   (Studi Di Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan Dan  Perikanan Belawan)
Authors: KURNIAWAN, ADHI
Abstract: Kondisi penegakan hukum untuk sektor perikanan di Indonesia &#xD;
dirasakan belum optimal, baik secara kuantitas kasus dan kualitas &#xD;
penyelesaian perkara. Belum kuatnya penegakan hukum di bidang &#xD;
perikanan ini, selain mengakibatkan kerugian negara, baik secara ekonomi &#xD;
dan lingkungan, juga berdampak pada penegakan kedaulatan wilayah &#xD;
negara, sehingga dapat mengakibatkan rakyat Indonesia menjadi tidak &#xD;
berdaulat di negaranya sendiri. Salah satu contoh belum optimalnya &#xD;
penegakan hukum terhadap Tindak Pidana Perikanan ini dapat kita lihat &#xD;
dari beberapa kasus yang ditangani oleh Penyidik dari Kantor Stasiun &#xD;
Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Belawan. &#xD;
Penelitian ini merupakan penelitian empiris yang mengambil &#xD;
sumber data dari data primer, sekunder dan tersier, dengan menggunakan &#xD;
pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus lalu menggunakan &#xD;
analisis data kualitatif. &#xD;
Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa Peraturan dan penerapan &#xD;
hukum terkait tindak pidana perikanan terdapat pada Konferensi PBB &#xD;
tentang hukum laut pada tahun 1958, 1960 dan 1973-1982, menghasilkan &#xD;
sejumlah perjanjian dan menghasilkan UNCLOS 1982 sebagai konvensi &#xD;
mengenai hukum laut internasional selain itu hukum nasional Indonesia &#xD;
juga mengaturnya pada Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang &#xD;
Perikanan dan perubahannya, Undang-Undang Nomor 45 Tahun &#xD;
2009, serta Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2023. Bahwa &#xD;
Efektivitas pemidanaan terhadap pelaku residivis tindak pidana perikanan &#xD;
saat ini belum optimal, pelaku WNA di wilayah pelanggaran ZEE &#xD;
Indonesia dikecualikan diberikan sanksi hukuman akhir berupa hukuman &#xD;
penjara, kecuali ada perjanjian antara pemerintah Indonesia dengan negara &#xD;
yang bersangkutan. Namun, selama proses penyidikan dan penuntutuan &#xD;
penahanan tersangka tidak dilarang. Pemidanaan terhadap pelaku residivis &#xD;
sendiri belum dapat dilaksanakan dengan optimal karena terbatas oleh &#xD;
peraturan International yang mengharuskan bentuk pemidanaan terhadap &#xD;
pelaku tindak pidana perikanan hanya dalam bentuk denda. Bahwa selain &#xD;
hukum nasional pemberlakuan pemidanaan terhadap tindak pidana &#xD;
perikanan juga ada pada Perserikatan Bangsa Bangsa yang menggelar &#xD;
Konferensi PBB tentang hukum laut pada tahun 1958, 1960 dan 1973&#xD;
1982, menghasilkan sejumlah perjanjian dan menghasilkan UNCLOS &#xD;
1982 sebagai konvensi mengenai hukum laut internasional.</summary>
    <dc:date>2026-04-15T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

